Kamis, 9 April 2026

Badminton

Beda Sikap PBSI dan BAM soal Gebrakan BWF dalam Perubahan Format Turnamen 2027-2030

Beda sikap PBSI dan BAM terkait gebrakan BWF dalam perubahan format turnamen 2027-2030.

Editor: Amalia Husnul A
https://bwfthomasubercups.bwfbadminton.com/
FORMAT BARU BWF - Ilustrasi penampakan Piala Thomas dan Uber. BWF mengumumkan kalender 2027-2030 sekaligus perpanjangan durasi event sejumlah turnamen termasuk turnamen beregu mayor seperti Thomas Uber Cup. PBSI melihat peluang dari format baru BWF ini namun beda dengan BAM yang menyoroti risiko dibaliknya. (https://bwfthomasubercups.bwfbadminton.com/) 

Ringkasan Berita:
  • PBSI dan BAM beda pendapat soal perubahan format turnamen di kalender BWF 2027-2030.
  • PBSI melihat adanya peluang dengan perpanjangan hari untuk sejumlah turnamen besar
  • BAM justru menyoroti risiko dari perubahan durasi turnamen

 

TRIBUNKALTIM.CO - Dua asosiasi bulutangkis di Asia Tenggara yakni PBSI dan BAM berbeda pendapat soal perubahan format turnamen yang diumumkan BWF dalam kalender 2027-2030.

Dari Tanah Air,  Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) melihat peluang dalam perpanjangan hari turnamen-turnamen badminton akbar yang diumumkan BWF untuk periode 2027-2030. 

Sementara, Badminton Association Malaysia (BAM) mempunyai sikap berbeda soal perpanjangan hari turnamen ini. 

Dalam kalender BWF 2027-2030, BWF World Championships atau Kejuaraan Dunia, Piala Sudirman, Thomas Uber Cup, serta ajang-ajang BWF World Tour Super 1000 bakal digelar lebih lama dengan lebih banyak peserta.

Baca juga: Format Baru BWF World Tour Disorot Legenda Badminton Malaysia, Berat bagi Pemain Independen

Di Kejuaraan Dunia, Piala Sudirman, dan Piala Thomas dan Uber yang merupakan ajang mayor, turnamen dilangsungkan selama 12 hari.

Sedangkan ajang-ajang Super 1000 seperti All England Open dan Indonesia Open diselenggarakan selama 11 hari dari biasanya 6 hari.

Inovasi ini bertujuan untuk menghadirkan atensi lebih besar terhadap bulu tangkis serta memberi ruang untuk pemulihan bagi atlet-atlet yang bertanding.

PBSI Melihat Peluang

PBSI melalui Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri, Bambang Roedyanto, memberi dukungan terhadap langkah BWF ini.

"Dari sisi penyelenggara, penerapan durasi 11 hari tentu berdampak pada meningkatnya biaya operasional karena waktu pelaksanaan yang lebih panjang," ucap Bambang.

"Namun PBSI memandang hal ini sebagai investasi jangka panjang untuk mempertahankan posisi Indonesia Open sebagai turnamen premier dunia."

"Hal ini sekaligus menghadirkan standar penyelenggaraan yang sejalan dengan arah global BWF," tambahnya.

Bambang menunjuk waktu istirahat yang lebih lama akan membantu pemain untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Kualitas permainan pun diharapkan meningkat.

Selain kompetisi, PBSI telah memiliki gambaran tentang penyelenggaraan Indonesia Open yang akan dikemas dengan pendekatan sportainment.

"Dengan durasi yang lebih panjang, penyelenggaraan Indonesia Open memungkinkan hadirnya berbagai elemen hiburan dan aktivasi di luar lapangan pertandingan," katanya.

Sumber: BolaSport.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved