Sabtu, 18 April 2026

Badminton

Beda Sikap PBSI dan BAM soal Gebrakan BWF dalam Perubahan Format Turnamen 2027-2030

Beda sikap PBSI dan BAM terkait gebrakan BWF dalam perubahan format turnamen 2027-2030.

Editor: Amalia Husnul A
https://bwfthomasubercups.bwfbadminton.com/
FORMAT BARU BWF - Ilustrasi penampakan Piala Thomas dan Uber. BWF mengumumkan kalender 2027-2030 sekaligus perpanjangan durasi event sejumlah turnamen termasuk turnamen beregu mayor seperti Thomas Uber Cup. PBSI melihat peluang dari format baru BWF ini namun beda dengan BAM yang menyoroti risiko dibaliknya. (https://bwfthomasubercups.bwfbadminton.com/) 

"Sportainment menjadi bagian penting untuk menghadirkan pengalaman menonton yang lebih menarik bagi penonton di arena maupun penggemar melalui siaran dan platform digital."

Indonesia berpeluang menjadi bagian lebih besar dari era bulu tangkis yang baru ini.

Presiden BWF, Khunying Patama Leeswadtrakul, menawarkan hak tuan rumah untuk Piala Thomas dan Uber 2027 serta Piala Sudirman 2028.

Hal itu dikatakannya dalam kunjungannya ke Indonesia Arena pada Juni silam.

BAM Soroti Risiko

Sementara itu, aspek risiko diungkapkan Malaysia yang akan terlibat sebagai tuan rumah ajang Super 1000 dengan Malaysia Open.

Sekretaris Jenderal BAM, Kenny Goh, tak sepenuhnya mendukung gebrakan baru BWF, terutama karena aspek finansial dan daya tariknya.

"Jika Anda melihat Piala Thomas dan Piala Sudirman, pada beberapa hari pertama orang-orang tidak tertarik untuk menonton," kata Goh dikutip Bolasport dari New Straits Times.

"Saya tidak yakin apakah menambah jumlah hari akan membantu. Sebaliknya, kita perlu melihat bagaimana membuat turnamen ini lebih menarik," tandasnya.

Belum lagi soal aspek saat jadi tuan rumah. Menggelar turnamen besar harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Goh menekankan pentingnya sistem pembagian anggaran dan keuntungan antara BWF dan pihak tuan rumah.

Jangan sampai tuan rumah sudah keluar uang banyak tetapi hasilnya justru banyak masuk di kantong satu pihak (BWF) saja.

Bila tuan rumah terus menjadi pihak yang rugi, acara turnamen BWF terancam sulit menarik negara-negara yang ingin melakukan bidding.

"Agar kami dapat mengajukan tawaran untuk semua turnamen besar ini, perlu ada model bisnis yang adil yang dapat memberikan keseimbangan bagi negara tuan rumah dan juga BWF."

"Bukan berarti kami ingin mencari untung, tetapi ini seharusnya tidak membuat kami bangkrut," imbuhnya.

Malaysia terakhir kali menjadi tuan rumah ajang beregu mayor saat Sudirman Cup 2013.

Adapun Indonesia, perhelatan terakhir terjadi di Piala Thomas-Uber pada 2008.

Baca juga: Perubahan Kalender BWF 2027-2030, Turnamen Super 1000 Bertambah, Indonesia Open Dirombak

(*)

Ikuti berita populer lainnya di Google NewsChannel WA, dan Telegram.

Artikel ini telah tayang di bolasport.com.

Sumber: BolaSport.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved