Breaking News
Kamis, 21 Mei 2026

WhatsApp

Berkaca dari Tindakan Ilegal Sadap WhatsApp, TikTok Justru Ogah Ikut-ikutan Gunakan E2EE

Tindakan ilegal berupa sadap WhatsApp, nyatanya tidak membuat TikTok mengambil langkah yang sama untuk memperkuat proteksi

Tayang: | Diperbarui:
AI Microsoft Copilot
PROTEKSI TIKTOK - Ilustrasi TikTok loading lambat, diolah di AI Microsoft Copilot. Tindakan ilegal berupa sadap WhatsApp, nyatanya tidak membuat TikTok mengambil langkah yang sama untuk memperkuat proteksi atas upaya penyadapan. (AI Microsoft Copilot) 

Ringkasan Berita:
  • TikTok secara resmi menolak menerapkan teknologi End-to-End Encryption (E2EE) pada fitur pesan langsung (Direct Message/DM) di aplikasinya. 
  • Langkah ini diambil demi mencegah blind spot hukum dalam mendeteksi kejahatan digital, seperti penipuan, perundungan, dan eksploitasi anak. 
  • Sebagai gantinya, TikTok menggunakan protokol enkripsi standar setara Gmail guna melindungi pesan saat dikirim dan disimpan di server, dengan akses internal yang diawasi ketat.

TRIBUNKALTIM.CO - Tindakan ilegal berupa sadap WhatsApp, nyatanya tidak membuat TikTok mengambil langkah yang sama untuk memperkuat proteksi atas upaya penyadapan.

Ya, di saat mayoritas raksasa teknologi dunia berlomba-lomba memperketat privasi pengguna dengan sistem pengamanan End-to-End Encryption (E2EE), TikTok justru mengambil arah yang berlawanan.

Platform berbagi video pendek besutan ByteDance tersebut secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka tidak akan pernah menyematkan teknologi enkripsi E2EE pada fitur pesan langsung (Direct Message/DM) di aplikasinya.

Baca juga: WhatsApp Masih Kerap Disadap, Kenali Tanda dan Cara Mencegahnya

Langkah ini diambil demi memprioritaskan keamanan siber secara proaktif, terutama untuk melindungi basis pengguna usia muda dan remaja dari ancaman kejahatan digital.

Alasan TikTok Tolak Gunakan Enkripsi End-to-End

Enkripsi end-to-end merupakan protokol keamanan "anti-intip" yang membuat isi pesan hanya bisa dibaca oleh pengirim dan penerima.

Dalam sistem ini, penyedia layanan ataupun pihak ketiga sama sekali tidak memiliki kunci untuk membuka dan melihat isi percakapan tersebut.

Baca juga: WhatsApp Plus Mulai Diuji, Ini Fitur Tambahan di Versi Premium

Teknologi ini telah menjadi standar baku pada berbagai platform pesan instan seperti WhatsApp, Signal, iMessage Apple, Google Messages, hingga Instagram dan Facebook Messenger.

Dalam penjelasannya kepada outlet media BBC, TikTok membeberkan alasan krusial di balik penolakan tersebut.

Jika E2EE diterapkan secara mutlak, maka tim keamanan internal TikTok maupun aparat penegak hukum akan mengalami kebutaan total (blind spot) dalam mendeteksi riwayat percakapan, bahkan ketika muncul laporan mendesak terkait tindak pidana seperti:

Kasus Penipuan Digital (Scamming)

Perundungan Siber (Cyberbullying dan Pelecehan)

Kasus Eksploitasi Seksual dan Grooming Anak

Baca juga: 3 Cara Ampuh Menghentikan Sadap WhatsApp, Akses Peretas Langsung Terputus

“Sistem pesan kami dirancang untuk menyeimbangkan privasi pengguna dengan kemampuan untuk menangani masalah keamanan, seperti penipuan, pelecehan, atau tindakan berbahaya lainnya,” tegas pihak TikTok, dilansir dari Kompas.com.

TikTok memastikan perusahaan tetap bisa membantu penyelidikan hukum secara cepat saat terjadi pelanggaran berat.

Gunakan Protokol Enkripsi Standar ala Gmail

Meski tidak dibekali sistem E2EE mutlak, platform dengan hampir 2 miliar pengguna aktif bulanan ini menjamin bahwa seluruh obrolan DM penggunanya tidak dibiarkan telanjang tanpa pengaman.

Baca juga: Cara Ganti Nada Dering WhatsApp Pakai Suara Google hingga Nama Sendiri, Mudah Tanpa Aplikasi

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved