Berita Samarinda Terkini
CKG di Samarinda Capai 13 Persen, Pelajar Sudah Jalani Cek Kesehatan Gratis
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digulirkan pemerintah pusat kini mulai menunjukkan hasil signifikan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,SAMARINDA - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digulirkan pemerintah pusat kini mulai menunjukkan hasil signifikan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan Samarinda, Budy Setyawan, menyebutkan capaian CKG telah mencapai sekitar 13 persen dari total populasi sasaran.
“Jadi untuk saat ini, capaian Kota Samarinda secara keseluruhan terkait CKG mulai dari bayi sampai lansia termasuk dalamnya pelajar itu jumlahnya kurang lebih sudah 13 persen. Artinya kurang lebih 1.296,” jelas Budy.
Menariknya, dari pemeriksaan yang sebagian besar difokuskan pada kalangan pelajar, ditemukan sejumlah masalah kesehatan yang cukup krusial.
“Seperti gigi yang berlubang, kemudian kesehatan mental, kemudian ada pandangan yang kabur, kemudian gangguan pendengaran dan gangguan konsentrasi,” terangnya.
Baca juga: Program Cek Kesehatan Gratis Bagi Warga yang Berulang Tahun di Balikpapan Capai 85,97 Persen
Budy menjelaskan, setiap kali tim kesehatan melakukan pemeriksaan di sekolah, biasanya diturunkan lima tenaga medis dengan fungsi berbeda.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, intervensi kesehatan dapat langsung diberikan di puskesmas apabila gangguan masih ringan, seperti kotoran telinga atau masalah lingkungan belajar.
Namun, bila ditemukan kondisi yang lebih serius, siswa akan segera dirujuk ke rumah sakit.
“Kalau gangguannya ringan, misalkan ini gangguan pendengaran karena mungkin suasana lingkungan sekolahnya ribut dan sebagainya, itu bisa diintervensi saat itu. Tapi kalau memang basicnya ada gangguan, kita rujuknya ke rumah sakit. Tapi kalau untuk kotoran di dalam telinga, itu langsung bisa diintervensi di puskesmas,” ungkap Budy.
Namun, pelaksanaan program ini tak luput dari kendala teknis, khususnya terkait penginputan data ke sistem Kementerian Kesehatan.
Selain itu, beberapa sekolah juga belum sepenuhnya siap menjadi lokasi pemeriksaan karena keterbatasan sarana.
Budy mencontohkan, misalnya pemeriksaan ketajaman penglihatan membutuhkan ruangan dengan panjang minimal enam meter.
Meski demikian, ia memastikan program tetap berjalan melalui strategi jemput bola, baik di sekolah, kecamatan, kelurahan, hingga lembaga seperti kepolisian.
“Prinsipnya manual reportnya sudah ada. Hanya saja penginputan di dalam sistemnya itu tadi. Tapi yang jelas masalah kesehatan yang paling ditemukan itu adalah gangguan penglihatan, pendengaran dengan gigi,” tambah Budy.
Sementara itu, untuk aspek kesehatan mental, jumlah temuan masih relatif kecil. Namun, tenaga kesehatan tetap menaruh perhatian khusus kepada siswa yang menunjukkan gejala seperti murung atau kurang konsentrasi dalam belajar.
| Jadwal Mati Air di Samarinda 20 Mei 2026, Ini Daftar Daerah Terdampak |
|
|---|
| Samarinda Pionir Manajemen Talenta di Kaltim, Walikota Andi Harun Beberkan 3 Manfaatnya |
|
|---|
| Perangi Obat Ilegal, BPOM Samarinda Buka Posko Aduan dan Gandeng BNN Tanah Merah |
|
|---|
| Bea Cukai Samarinda Musnahkan 1,9 Juta Batang Rokok Ilegal dan 2.160 Liter Miras |
|
|---|
| Sering Tambal Jalan Rusak Pakai Uang Sendiri, 4 Ojol di Samarinda Ini Dapat Penghargaan dari Dishub |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250903-petugas-melakukan-pemeriksaan-kesehatan-gratis.jpg)