Senin, 13 April 2026

Program Makan Bergizi Gratis

Andi Harun Urai Penyebab Keracunan MBG, Walikota Minta Dapur MBG di Samarinda Punya Cold Storage

Wali Kota Samarinda, Andi Harun minta dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Samarinda, Kaltim punya cold storage. Bukan tanpa alasan.

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Wali Kota Samarinda, Andi Harun minta dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Samarinda punya cold storage atau tempat penyimpanan dingin.

Bukan tanpa alasan, Wali Kota Samarinda mendesak agar setiap dapur MBG memiliki cold storage.

Tak lain bertujuan untuk menjaga kualitas ketahanan bahan makanan program MBG di Samarimda, Kalimantan Timur.

Wali Kota Samarinda itu juga mengurai permasalahan keracunan makanan yang sedang jadi sorotan publik di tanah air.

Baca juga: Walikota Andi Harun Minta Dapur MBG di Samarinda Miliki Cold Storage

Baru-baru ini, kasus keracunan makanan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) marak diberitakan terjadi di sejumlah sekolah di berbagai daerah. 

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran publik, termasuk di Kota Samarinda yang kini tengah gencar mengimplementasikan program prioritas nasional tersebut.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan bahwa pemerintah daerah bersama Satgas MBG, BGN, dan Forkopimda terus berkoordinasi untuk memastikan tata kelola MBG berjalan dengan standar yang ketat demi mencegah insiden serupa.

“Tata kelola ini memang harus kita benahi. Kita harus cegah dan melakukan identifikasi penyebab. Di antaranya, kami berharap semua dapur MBG memiliki cold storage atau freezer. Jadi kalau pun beli bahan lebih dari satu hari sebelum dipakai, kondisinya tetap segar,” ungkap Andi Harun saat dikonfirmasi TribunKaltim, Senin (29/9). 

Menurutnya, tantangan besar muncul karena setiap dapur MBG melayani ribuan porsi makanan per hari, mulai dari 1.000 hingga 3.000 porsi. 

Baca juga: Kasus Keracunan Marak, Pemkot Bontang Awasi Ketat Program MBG

Kondisi ini membuat faktor mitigasi harus diperhitungkan dengan serius, bukan hanya dari sisi penyimpanan bahan pangan, tetapi juga pada sistem keseluruhan.

“Pernah terjadi makanan basi di tingkat SMA dan SMK. Karena itu, kita terus memperketat pengawasan. Mudah-mudahan di Samarinda tidak terjadi masalah seperti ini,” tambahnya.

Andi Harun menekankan bahwa kasus keracunan biasanya bukan sekadar persoalan bahan makanan, melainkan akibat sistem penyimpanan dan distribusi yang tidak sesuai standar. 

Bahan pangan yang terlalu lama disimpan, kata dia, sangat berpotensi terpapar bakteri, virus, maupun mikroba tertentu yang bisa menimbulkan gangguan pencernaan bahkan berisiko mengganggu pernapasan siswa penerima MBG.

“Ini bukan cuma soal material, tapi sistem yang harus diperbaiki. Kalau barang terlalu lama disimpan pasti bisa terjangkit virus atau bakteri. Itulah yang menyebabkan gangguan pencernaan, yang sering disebut keracunan,” jelasnya.

Ia menambahkan, solusi tidak bisa hanya mengandalkan satu atau dua variabel. Pemkot Samarinda menilai diperlukan sistem mitigasi yang terintegrasi mulai dari standar dapur, penyimpanan bahan, pengolahan, hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah.

Baca juga: Presiden Prabowo Turun Tangan, Panggil Kepala BGN Bahas Kasus Keracunan MBG

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved