Berita Samarinda Terkini
3 Tantangan Utama Seni Teater di Samarinda dalam Era Teknologi dan Algoritma
Adalah Fachri Mahayupa, Direktur Artistik BELAJAR TEATER Samarinda, ia berdiri di hadapan peserta diskusi dan praktisi seni
Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Di tengah derasnya arus video pendek, algoritma media sosial, dan hiburan instan yang serba cepat, teater kerap dianggap kuno, lambat, bahkan nyaris kehilangan relevansi.
Namun di sebuah ruang kolektif akhir tahun bernama Seraung #2, narasi itu dipatahkan dengan tenang.
Adalah Fachri Mahayupa, Direktur Artistik BELAJAR TEATER Samarinda, ia berdiri di hadapan peserta diskusi dan praktisi seni di gedung pertunjukkan Temindung Creative Hub Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Pria berkemeja putih itu tidak sedang meratapi nasib teater.
Baca juga: Teater SMPN 3 Balikpapan jadi Ajang Pembuktian Bakat Siswa
Sebaliknya, ia mengajukan sebuah gagasan optimistis bahwa teknologi dan algoritma bukan musuh teater, melainkan peluang baru untuk bertumbuh.
Teater Modern Bukan Sekadar Panggung
Dalam paparannya bertajuk “Teater Modern di Era Teknologi dan Algoritma”, sutradara muda Kaltim itu menegaskan bahwa teater modern hari ini tak lagi terbatas pada aktor, panggung, dan penonton di satu ruang fisik.
Teater, menurutnya, telah berevolusi menjadi pengalaman multidimensi yang memadukan narasi, ruang, performa, dan teknologi.
Tema-tema yang diangkat pun semakin kontemporer, menyentuh realitas sosial, politik, hingga kegelisahan manusia modern yang hidup di bawah bayang-bayang layar dan data.
Baca juga: Teater Bumi Berau Gelar Pagelaran Seni dan Sastra Pelajar 13-18 Januari, Memperebutkan 9 Penghargaan
“Teater modern adalah ruang eksperimentasi. Ia dinamis, reflektif, dan tetap berpijak pada pengalaman manusia,” ujarnya, Senin (29/12/2025).
Namun jalan teater di era digital tidaklah mulus, alumnus Teater Mahardika dan Teater Yupa ini coba memetakan setidaknya tiga tantangan utama.
Yakni sebagai berikut:
Pertama, gempuran budaya populer. Film, serial digital, dan konten media sosial menawarkan visual yang atraktif dan konsumsi cepat, sesuatu yang membuat teater kerap dipersepsikan eksklusif dan membutuhkan kesabaran ekstra.
Kedua, algoritma dan attention economy. Platform digital menentukan apa yang layak muncul di layar pengguna. Dalam mekanisme ini, teater sering tersingkir karena tidak sesuai dengan logika viral dan durasi singkat.
Ketiga, krisis relevansi, bagaimana teater menarik penonton baru tanpa kehilangan karakter artistiknya, sekaligus menjaga penonton lama agar tetap merasa terhubung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20251230_Seni-Teater-di-Samarinda-2025.jpg)