Rabu, 3 Juni 2026

Mogok Kapal Sungai Samarinda

23 Kapal Mogok di Dermaga Mahulu Samarinda, Buruh dan Sopir Bertahan Hidup dari Utang

Aktivitas dermaga Mahulu Samarinda berhenti 16 hari, buruh dan sopir kehilangan penghasilan, distribusi sembako ke Mahulu ikut terhambat

Tayang:
TRIBUN KALTIM/Mohammad Fairoussaniy
TERPAKSA BERUTANG - Buruh angkut bernama A. Gazali atau akrab disapa Jali saat bersama Muhammad Iqbal Ramadhan saat berada di warung tak jauh dekat Dermaga Mahakam Ulu (Mahulu), Jalan Untung Suropati, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda, mereka kini menunggu kapal trayek Kota Samarinda–Long Bagun Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) kapan beroperasi hingga Senin (9/2/2026). (TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD FAIROUSSANIY) 

Ringkasan Berita:
  • Aktivitas bongkar muat Dermaga Mahulu Samarinda berhenti 16 hari.
  • Buruh angkut dan sopir sembako kehilangan penghasilan harian.
  • Distribusi kebutuhan pokok ke Mahulu tertahan, warga mulai kesulitan pasokan.

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Aktivitas Dermaga Mahulu Samarinda berhenti total selama lebih dari dua pekan atau 16 hari hingga Senin (9/2/2026). 

Dampaknya, buruh angkut dan sopir pengangkut sembako kehilangan sumber penghasilan harian, sementara distribusi kebutuhan pokok ke wilayah hulu Sungai Mahakam ikut terhambat.

Dermaga yang berada di Jalan Untung Suropati, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda itu biasanya menjadi pusat aktivitas bongkar muat kapal tujuan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu).

Namun sejak kapal tidak beroperasi, aktivitas di kawasan tersebut nyaris lumpuh.

Kondisi pilu tersebut membuat buruh dan sopir angkut sembako meski kehilangan penghasilan harian.

Baca juga: 23 Kapal Samarinda-Mahulu Belum Beroperasi 16 Hari, BBM Solar Subsidi Tertahan Administrasi

Mereka terpaksa bertahan hidup dari sisa tabungan bahkan berhutang demi kebutuhan keluarga.

Makan dari Hasil Hutang

A. Gazali (50) salah satu buruh angkut yang akrab disapa Jali ditemui Tribunkaltim.co hanya duduk di warung tempat ia biasa menghabiskan kopi bersama teman–teman buruh lainnya.

Ia bercerita, sejak kapal-kapal tujuan wilayah hulu Sungai Mahakam atau dari Kota Samarinda ke Long Bagun Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) tidak beroperasi, dirinya tak lagi bekerja.

Pekerjaan sampingan juga turut sulit didapatkan.

Biasanya, paling tidak Rp100 ribu per hari dari memanggul barang naik turun kapal ia bisa bawa pulang.

Baca juga: Ada Persyaratan Baru Verifikasi Kapal Sungai Mahakam, BBM Subsidi Belum dapat Disalurkan

Penghasilan ini menjadi sumber nafkah utama bagi keluarganya.

Tetapi sekarang, dua pekan terakhir, pemasukan tersebut hilang.

“Sekarang tidak ada kerja. Untuk makan sehari-hari terpaksa pakai tabungan,” kata Jali saat ditemui, Senin (9/2/2026).

Tak hanya itu, beberapa buruh lainnya turut menyampaikan, mereka saat ini lebih banyak berhutang ke pemilik warung.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved