Berita Samarinda Terkini
Imlek 2026 Samarinda, Warga Tionghoa Doa Ritual Tolak Bala di Kelenteng Thien Ie Kiong
Gerimis yang membasahi Bumi Etam selama satu jam tak menyurutkan langkah warga Tionghoa
Penulis: Nevrianto | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Gerimis yang membasahi Bumi Etam selama satu jam tak menyurutkan langkah warga Tionghoa untuk memadati Kelenteng Thien Ie Kiong di Jalan Yos Sudarso, Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.
Tepat beberapa menit menjelang tengah malam, Senin (16/2/2026), suasana sakral mulai terasa saat warga berdatangan secara bertahap demi menyambut pergantian tahun.
Dentang lonceng yang dipukul oleh pengurus kelenteng memecah keheningan malam, menjadi penanda dimulainya doa bersama.
Di pelataran kelenteng, tokoh pengurus Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Kalimantan Timur memimpin prosesi doa dengan khidmat di bawah naungan langit malam pergantian tahun.
Baca juga: Tahun Kuda Api Imlek 2026, Warga Tionghoa Balikpapan Doa Kesehatan dan Bisnis Lancar
Di sudut halaman, Sucipto Lesmana, seorang pengusaha alat sembahyang "Benteng Subur", tampak sibuk menyalakan lilin-lilin merah berukuran raksasa, mulai dari 60 sentimeter hingga 180 sentimeter.
Nyala api lilin tersebut bukan sekadar penerang, melainkan simbol harapan yang membumbung tinggi.
"Kami menyalakan lilin ini sebagai simbol doa agar di Tahun Kuda Api ini, usaha dan rezeki dimudahkan. Kami juga memohon agar dijauhkan dari bencana, marabahaya, dan selalu diberikan kesehatan," ujar Sucipto dengan penuh harap.
Wakil Ketua MATAKIN Kaltim, David Hermanto yang akrab disapa Jaosen (Guru Rohani) menjelaskan bahwa ritual malam Imlek 2577 Kongzili merupakan puncak dari rangkaian ibadah yang panjang.
Sebelum ke kelenteng, umat biasanya telah melaksanakan ibadah di altar leluhur di rumah masing-masing.
Rangkaian Imlek sendiri telah dimulai sejak tujuh hari sebelumnya (H-7) dengan tradisi berbagi santunan kepada warga yang kurang mampu.
Kemudian, pada H-4, dilakukan pembersihan arca dewa sebagai simbol penyucian diri dan lingkungan.
"Tahun ini sangat istimewa karena menandai berakhirnya Tahun Ular Kayu dan dimulainya Tahun Kuda Api. Kombinasi unsur Kuda dan Api ini terakhir kali muncul pada tahun 1966," terang Jaosen David.
Ia menambahkan bahwa rangkaian peribadatan ini akan terus berlangsung hingga hari ke-15 atau Cap Go Meh.
Sinergi dan Kemakmuran untuk Indonesia
Harapan senada juga disampaikan oleh Nyonya Lie, salah satu warga Samarinda yang hadir malam itu.
Di tengah pendar lampion dan aroma hio, ia menyelipkan doa untuk bangsa.
"Semoga di tahun shio Kuda Api ini segalanya menjadi lebih baik, Indonesia semakin makmur, dan kita semua dilimpahi rezeki. Gong Xi Fa Cai," ucapnya sembari tersenyum. (*)
| Tanggapan Pengamat Ekonomi Unmul soal Rupiah Melemah, Hati-hati Harga Barang di Kaltim Bisa Naik |
|
|---|
| BPKAD Kaltim Tegaskan Penggunaan Aset Koperasi Merah Putih Harus Melalui Skema Sewa |
|
|---|
| Respons Walikota Samarinda Andi Harun Soal Penggerebekan Kampung Narkoba |
|
|---|
| Jadwal Mati Air di Samarinda 20 Mei 2026, Ini Daftar Daerah Terdampak |
|
|---|
| Samarinda Pionir Manajemen Talenta di Kaltim, Walikota Andi Harun Beberkan 3 Manfaatnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260217_Imlek-2026-Kalimantan-Timur.jpg)