Jumat, 17 April 2026

Berita Balikpapan Terkini

Kaca Tebal Jadi Kendala Pengamatan Hilal di Balikpapan, BMKG Usulkan Observatorium Permanen ‎

Pengamatan hilal Ramadan 1447 H di Balikpapan terkendala kaca tebal dan embun. BMKG usulkan observatorium permanen untuk akurasi

Penulis: Dwi Ardianto | Editor: Amelia Mutia Rachmah
TRIBUN KALTIM/Dwi Ardianto
Stasiun Geofisika Balikpapan kembali melaksanakan pengamatan hilal dalam rangka penentuan awal 1 Ramadan 1447 Hijriah, sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci Ramadan 1447 H tahun 2026. (TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO) 
Ringkasan Berita:
  • Pengamatan hilal Ramadan 1447 H dilakukan di Islamic Centre Balikpapan.
  • Kaca tebal dan embun memicu deviasi cahaya sehingga akurasi terganggu.
  • BMKG usulkan observatorium permanen untuk pengamatan lebih optimal.

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Stasiun Geofisika Balikpapan kembali melaksanakan pengamatan hilal dalam rangka penentuan awal 1 Ramadan 1447 Hijriah, sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci Ramadan 1447 H tahun 2026.

‎Pengamatan dilaksanakan di Balikpapan Islamic Centre Masjid Madinatul Iman yang berlokasi di Jl. Belibis, Gn. Bahagia, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur bersama Kementerian Agama Kota Balikpapan.

‎Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, Rasmid, menjelaskan bahwa selain faktor astronomis, terdapat kendala teknis di lokasi pengamatan, salah satunya penggunaan kaca tebal yang menyerupai prisma.

‎“Nah, sebenarnya ini kan kacanya tebal ya, prisma. Kalau kaca tebal itu kami identikan dengan prisma. Kalau ada gelombang cahaya masuk, keluarnya tidak lurus, ada deviasi atau simpangan,” ujarnya kepada Tribunkaltim.co, Selasa (17/2/2026).

‎Menurutnya, jika teropong diarahkan melewati kaca tebal tersebut, maka objek yang dituju bisa mengalami pergeseran posisi.

Baca juga: Pengamatan Hilal Penentuan 1 Ramadhan 1447 H di Balikpapan Islamic Centre, Hilal Belum Terlihat

‎“Kalau kita nembak melewati ini, objeknya akan lain. Kita arahkan ke sana, tapi objeknya bisa terlihat di atas atau bergeser. Jadi tidak tepat betul ke objek yang dituju,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, idealnya pengamatan hilal tidak menggunakan penghalang kaca tebal karena dapat menimbulkan deviasi, refraksi, maupun pemantulan cahaya yang mengganggu akurasi.

‎“Seharusnya jangan pakai kaca tebal atau prisma, supaya tidak ada deviasi. Jadi pas kita bidik sasaran, tepat di situ,” katanya.

‎Rasmid bahkan mengusulkan agar ke depan Balikpapan memiliki fasilitas observatorium permanen seperti yang ada di Bosscha, di Jawa Barat sehingga alat pengamatan bisa ditempatkan secara tetap tanpa penghalang.

‎“Kita rencananya bersama Kemenag ingin membuat seperti Bosscha, jadi lebih permanen. Alatnya lengkap, standby di situ, tinggal buka saja kubahnya,” ungkapnya.

Baca juga: Hilal Ramadan 1447 H Tak Terlihat di IKN, Penetapan Puasa Menunggu Kemenag RI

‎Dengan fasilitas terbuka tanpa penghalang kaca, pengamatan matahari maupun bulan akan lebih akurat.

‎“Tidak ada penghalang, tidak ada deviasi, refraksi, atau pemantulan. Jadi benar-benar sesuai target yang kita tuju,” tegasnya.

‎Ia juga menambahkan, kondisi embun di lokasi pengamatan turut memengaruhi kejernihan pandangan.

‎“Tanpa embun pun sudah ada deviasi, apalagi kalau ada embun, makin tidak jelas,” tuturnya.

‎Meski menghadapi sejumlah kendala teknis, Stasiun Geofisika Balikpapan tetap melaksanakan rukyatul hilal sebagai bagian dari kontribusi ilmiah dalam penentuan awal Ramadan 1447 H, yang hasilnya akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat pemerintah pusat. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved