Kamis, 21 Mei 2026

Ramadhan 2025

Rukyatul Hilal di Tower ASN IKN, Secara Astronomis Ramadan Belum Masuk

Untuk titik pengamatan berada di koordinat minus 0,98 derajat dan 116,7 derajat, dengan elevasi sekitar 100 meter

Tayang:
Penulis: Zainul | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/ZAINUL
IKN TERTUTUP AWAN - Pelaksanaan Rukyatul Hilal Ramadan 1447 Hijriah di IKN tertutup awan, Selasa (17/2/2026). Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Kaltim dan BMKG belum bisa menyimpulkan kapan awal puasa.  

TRIBUNKALTIM.CO, NUSANTARA - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur bersama BMKG dan Otorita Ibukota Nusantara (OIKN) menggelar kegiatan Rukyatul Hilal Awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi di Tower Rusun ASN 1 (Tower A) kawasan Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur pada Selasa (17/2/2026).

Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Balikpapan, Muhammad Alfatam Werdi Pabeang, menjelaskan berdasarkan data astronomis, hilal pada 17 Februari 2026 dipastikan belum mungkin teramati.

“Untuk titik pengamatan berada di koordinat minus 0,98 derajat dan 116,7 derajat, dengan elevasi sekitar 100 meter di kawasan Gedung ASN 1. Waktu konjungsi atau ijtimak terjadi pada pukul 20.01.07 Wita,” jelasnya.

Baca juga: Penanaman Pohon di IKN Nusantara, Dukung 75 Persen Ruang Terbuka Hijau dan Hidup Berkualitas

Ia menerangkan, konjungsi merupakan peristiwa ketika posisi bulan dan matahari berada pada satu garis bujur ekliptika yang sama. Dalam penentuan awal bulan hijriah, waktu terjadinya konjungsi menjadi salah satu parameter penting.

Sementara itu, waktu matahari terbenam di lokasi pengamatan tercatat pada pukul 18.31.23 WITA.

Artinya, matahari terbenam lebih dulu dibandingkan waktu konjungsi yang baru terjadi sekitar pukul 20.01 WITA.

“Secara teori astronomis, apabila konjungsi terjadi setelah matahari terbenam, maka rukyatul hilal dilakukan pada hari berikutnya,” ujarnya.

Selain faktor konjungsi, ketinggian hilal pada hari ini juga masih berada di bawah ufuk, yakni minus 1,477 derajat. Kondisi tersebut secara ilmiah memastikan hilal mustahil terlihat, bahkan tanpa mempertimbangkan faktor cuaca.

“Hilal masih di bawah 0 derajat, sehingga secara astronomis tidak mungkin teramati,” tegasnya.

Tak hanya itu, umur bulan pada saat matahari terbenam juga masih minus 2 jam 30 menit 16 detik. Fraksi iluminasi atau persentase bagian bulan yang tersinari matahari pun tercatat 0 persen.

“Fraksi iluminasi ini menunjukkan seberapa besar permukaan bulan yang mendapat cahaya matahari. Hari ini tercatat 0 persen, artinya belum ada bagian bulan yang tersinari,” tambahnya.

Sebelumnya, tim telah melakukan survei di lima titik lokasi pengamatan di kawasan IKN Nusantara

Hasilnya, Tower ASN 1 dinilai sebagai lokasi paling ideal karena memiliki jarak pandang luas ke arah ufuk barat tanpa hambatan bangunan maupun pepohonan.

“Visibility di sini sangat baik. Saat survei kemarin, matahari terlihat jelas di ufuk barat tanpa hambatan,” ungkapnya.

Berdasarkan seluruh parameter astronomis tersebut, BMKG menyimpulkan bahwa rukyatul hilal untuk penentuan awal Ramadan 1447 H akan dilaksanakan kembali pada Rabu, 18 Februari 2026.

Meski demikian, keputusan resmi penetapan awal Ramadan tetap menunggu sidang isbat yang digelar pemerintah dengan mempertimbangkan metode rukyat maupun hisab sesuai ketentuan yang berlaku. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved