Rabu, 22 April 2026

Ibu Kota Negara

Lonceng Didatangkan dari Belanda, Basilika Nusantara IKN Dioperasikan Serba Digital

Berbeda dari gereja konvensional, basilika ini mengintegrasikan konsep smart city ke dalam sistem liturginya.

Editor: Heriani AM
Tangkapan Layar Instagram @kaltimfolks
VIRAL GEREJA IKN - Tangkapan layar Instagram @kaltimfolks. Siluet megah Basilika Santo Fransiskus Xaverius berpendar di tengah rimba Kalimantan Timur, menjadi salah satu ikon spiritual baru di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).  
Ringkasan Berita:
  • Lonceng dan salib raksasa didatangkan dari Belanda dan dioperasikan secara digital, selaras dengan konsep smart city IKN.
  • Dirancang arsitek Mei Mumpuni dengan ventilasi alami masif, atap vernakular, serta simbol angka 17-8-45 sebagai representasi kemerdekaan Indonesia.
  • Proyek garapan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk ini memiliki kapasitas 1.600 jemaat dan ditargetkan menjadi tuan rumah Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia pada Mei 2026.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Siluet megah Basilika Santo Fransiskus Xaverius berpendar di tengah rimba Kalimantan Timur, menjadi salah satu ikon spiritual baru di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). 

Berdiri di atas bukit dengan latar alam tropis yang lebat, bangunan ini memadukan arsitektur vernakular Nusantara dan teknologi digital mutakhir.

Berbeda dari gereja konvensional, basilika ini mengintegrasikan konsep smart city ke dalam sistem liturginya.

Lonceng dan salib raksasa yang didatangkan dari Belanda dioperasikan sepenuhnya secara digital, memungkinkan pengaturan dentang dan pencahayaan yang presisi serta terhubung dengan kalender gerejawi.

Elemen paling ikonik, yakni lonceng dan salib raksasa, didatangkan khusus dari Belanda dan dioperasikan sepenuhnya secara digital.

Baca juga: Menteri Agama Tarawih di Masjid Negara IKN, Sampaikan Rencana Program Pendidikan Kader Ulama

Wakil Menteri Agama (Wamenag), Muhammad Syafi’i, mengungkapkan bahwa integrasi teknologi ini merupakan jembatan antara tradisi Eropa dan modernitas Indonesia.

Pengoperasian digital memungkinkan pengaturan presisi untuk dentang lonceng liturgi serta sistem pencahayaan salib yang sinkron dengan kalender gerejawi.

"Pemasangannya ditargetkan rampung bulan depan, Maret 2026, sehingga persiapan peribadatan dan pertemuan para uskup yang digelar Mei 2026 dapat berjalan sesuai rencana," tegas Syafi’i, sebagaimana dikutip Kompas.com, Kamis (19/2/2026).

Langkah digitalisasi ini bukan sekadar gaya-gayaan.

Ia adalah solusi atas efisiensi operasional di tengah kota cerdas, di mana setiap elemen infrastruktur diharapkan mampu terhubung dalam jaringan yang terintegrasi.

Baca juga: Menteri Agama Nasaruddin Umar Salat Subuh di Masjid Negara IKN, Tekankan Makna Bismillah

Filosofi "Bangunan yang Bernafas"

Meski sarat teknologi, Basilika ini tidak meninggalkan identitas tropisnya. Principal Architect Titik Garis Bidang, Mei Mumpuni, merancang bangunan ini dengan filosofi "Bangunan yang Bernafas".

Respons terhadap iklim tropis diwujudkan melalui penggunaan ventilasi alami yang masif, mengurangi ketergantungan pada pendingin udara buatan yang boros energi.

Secara visual, atap vernakular Nusantara mendominasi massa bangunan. Desain ini memberikan naungan dari terik surya sekaligus menciptakan efek nave (ruang tengah) yang tinggi dan megah, memberikan pengalaman ruang yang transenden bagi umat yang beribadah di dalamnya.

Keunikan lainnya adalah penerapan "Sains Nusantara".

Mei Mumpuni menggunakan patokan angka kemerdekaan Indonesia, 17, 8, dan 45, pada setiap ukuran penting bangunan, mulai dari tinggi Menara Lonceng hingga dimensi Altar.

Ini adalah pernyataan politik-arsitektural bahwa iman Katolik di IKN berakar kuat pada identitas kebangsaan yang mandiri.

Baca juga: Profil Irjen Edgar Diponegoro, Perwira Aktif Polri Jadi Stafsus Keamanan Otorita IKN

Investasi Strategis dan Simbol Sejarah 

Proyek ambisius yang dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk ini menelan anggaran APBN sebesar Rp 704,9 miliar. 

Berdiri di atas lahan seluas 2.023 hektar di Kawasan Peribadatan IKN, kompleks ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan fasilitas pastoral komprehensif yang mencakup:

Gedung Gereja Empat Lantai: Seluas 8.586 meter persegi dengan kapasitas hingga 1.600 jemaat.

Wisma Uskup: Bangunan tiga lantai dengan 43 kamar untuk akomodasi pimpinan gereja dari seluruh Indonesia.

Interior Historis: Ruangan dihiasi ornamen buah pala dan tenun Banda, merujuk pada jejak misi pertama Santo Fransiskus Xaverius di Ambon, Maluku.

Menanti Ketuk Palu Vatikan

Di tengah progres fisik yang mendekati 100 persen, ada satu hal yang masih dikejar: restu dari Takhta Suci Vatikan.

Status "Basilika" bukanlah gelar sembarangan, melainkan gelar kehormatan kanonik yang memerlukan verifikasi ketat.

Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI, Riston Situmorang OSC, menjelaskan bahwa penetapan status ini memerlukan prosedur resmi yang hanya bisa difinalisasi setelah bangunan tuntas secara fisik dan fungsi.

"Status ini merupakan gelar kehormatan yang memerlukan verifikasi ketat, termasuk penyelesaian tuntas konstruksi bangunan terlebih dahulu," jelas Riston.

Baca juga: Otorita IKN Ajak Warga Salat Tarawih dan Idul Fitri di Masjid Negara Ibu Kota Nusantara

Pemerintah dan KWI kini berpacu dengan waktu. Mei 2026 akan menjadi pembuktian besar saat Basilika ini dijadwalkan menjadi tuan rumah Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Kehadiran para uskup dari seluruh penjuru Tanah Air akan menjadi proklamasi bahwa di IKN, eksistensi iman dan pembangunan peradaban baru Indonesia berjalan beriringan, seirama dengan dentang lonceng digital yang bergema di tengah rimba Nusantara.

Sumber: https://ikn.kompas.com/read/2026/02/20/040000687/canggih-elemen-liturgi-basilika-nusantara-ikn-dioperasikan-secara-digital?page=all#page2.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved