Ibu Kota Negara
Lonceng Didatangkan dari Belanda, Basilika Nusantara IKN Dioperasikan Serba Digital
Berbeda dari gereja konvensional, basilika ini mengintegrasikan konsep smart city ke dalam sistem liturginya.
Ringkasan Berita:
- Lonceng dan salib raksasa didatangkan dari Belanda dan dioperasikan secara digital, selaras dengan konsep smart city IKN.
- Dirancang arsitek Mei Mumpuni dengan ventilasi alami masif, atap vernakular, serta simbol angka 17-8-45 sebagai representasi kemerdekaan Indonesia.
- Proyek garapan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk ini memiliki kapasitas 1.600 jemaat dan ditargetkan menjadi tuan rumah Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia pada Mei 2026.
TRIBUNKALTIM.CO - Siluet megah Basilika Santo Fransiskus Xaverius berpendar di tengah rimba Kalimantan Timur, menjadi salah satu ikon spiritual baru di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Berdiri di atas bukit dengan latar alam tropis yang lebat, bangunan ini memadukan arsitektur vernakular Nusantara dan teknologi digital mutakhir.
Berbeda dari gereja konvensional, basilika ini mengintegrasikan konsep smart city ke dalam sistem liturginya.
Lonceng dan salib raksasa yang didatangkan dari Belanda dioperasikan sepenuhnya secara digital, memungkinkan pengaturan dentang dan pencahayaan yang presisi serta terhubung dengan kalender gerejawi.
Elemen paling ikonik, yakni lonceng dan salib raksasa, didatangkan khusus dari Belanda dan dioperasikan sepenuhnya secara digital.
Baca juga: Menteri Agama Tarawih di Masjid Negara IKN, Sampaikan Rencana Program Pendidikan Kader Ulama
Wakil Menteri Agama (Wamenag), Muhammad Syafi’i, mengungkapkan bahwa integrasi teknologi ini merupakan jembatan antara tradisi Eropa dan modernitas Indonesia.
Pengoperasian digital memungkinkan pengaturan presisi untuk dentang lonceng liturgi serta sistem pencahayaan salib yang sinkron dengan kalender gerejawi.
"Pemasangannya ditargetkan rampung bulan depan, Maret 2026, sehingga persiapan peribadatan dan pertemuan para uskup yang digelar Mei 2026 dapat berjalan sesuai rencana," tegas Syafi’i, sebagaimana dikutip Kompas.com, Kamis (19/2/2026).
Langkah digitalisasi ini bukan sekadar gaya-gayaan.
Ia adalah solusi atas efisiensi operasional di tengah kota cerdas, di mana setiap elemen infrastruktur diharapkan mampu terhubung dalam jaringan yang terintegrasi.
Baca juga: Menteri Agama Nasaruddin Umar Salat Subuh di Masjid Negara IKN, Tekankan Makna Bismillah
Filosofi "Bangunan yang Bernafas"
Meski sarat teknologi, Basilika ini tidak meninggalkan identitas tropisnya. Principal Architect Titik Garis Bidang, Mei Mumpuni, merancang bangunan ini dengan filosofi "Bangunan yang Bernafas".
Respons terhadap iklim tropis diwujudkan melalui penggunaan ventilasi alami yang masif, mengurangi ketergantungan pada pendingin udara buatan yang boros energi.
Secara visual, atap vernakular Nusantara mendominasi massa bangunan. Desain ini memberikan naungan dari terik surya sekaligus menciptakan efek nave (ruang tengah) yang tinggi dan megah, memberikan pengalaman ruang yang transenden bagi umat yang beribadah di dalamnya.
Keunikan lainnya adalah penerapan "Sains Nusantara".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260216_basilika.jpg)