Penemuan Potongan Tubuh di Samarinda
Kasus Mutilasi Samarinda, Ahli Psikologi Unmul Ingatkan Warga Tak Buru-buru Labeli Pelaku Psikopat
Kasus mutilasi di Samarinda memicu spekulasi publik, psikolog tegaskan diagnosis psikopat tak bisa sembarangan
Penulis: Gregorius Agung Salmon | Editor: Amelia Mutia Rachmah
Ringkasan Berita:
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Kasus mutilasi Samarinda yang menewaskan korban berinisial S (35) di Jalan Gunung Pelanduk, Samarinda Utara, terus menjadi sorotan publik.
Kasus pembunuhan sadis ini memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat, termasuk anggapan bahwa pelaku memiliki gangguan psikopat.
Meski polisi telah mengamankan dua tersangka, J (52) dan R (56), muncul beragam spekulasi di masyarakat yang menyebut para pelaku sebagai psikopat.
Psikolog: Diagnosis Tidak Bisa Sembarangan
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) HIMPSI Kaltim sekaligus Dosen Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul), Ayunda Ramadhani, memberikan penjelasan mendalam dari sudut pandang klinis forensik.
Ayunda menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa langsung menyimpulkan seseorang sebagai psikopat hanya berdasarkan kejiwaan tindakannya.
Baca juga: Kasus Mutilasi di Samarinda saat Lebaran, Potongan Tubuh Ditemukan Dalam Karung, Pelaku Sakit Hati
Menurutnya, psikopat merupakan diagnosis medis yang memerlukan proses pemeriksaan klinis forensik yang panjang dan komprehensif.
"Kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa seseorang yang memutilasi itu pasti psikopat. Diperlukan rangkaian asesmen, observasi, wawancara, hingga tes psikologi formal untuk mengungkap kecenderungan tersebut," jelasnya kepada Tribunkaltim.co pada Selasa, (24/3/2026).
Ia menambahkan bahwa diagnosis tersebut hanya bisa dikeluarkan oleh profesional seperti psikolog klinis forensik atau psikiater.
"Opini masyarakat sering kali mengarah ke sana, padahal itu adalah ranah medis," imbuhnya.
Motif Tidak Selalu Menjelaskan Tindakan Mutilasi
Terkait dugaan motif tekanan ekonomi atau sakit hati yang melatarbelakangi kasus ini, Ayunda memberikan pembedaan yang tegas.
Baca juga: Polisi Bakal Periksa Kejiwaan 2 Tersangka Mutilasi di Samarinda
Menurutnya, faktor ekonomi atau dendam lebih tepat menjelaskan alasan terjadinya pembunuhan, namun belum tentu menjelaskan tindakan mutilasi.
"Mutilasi itu terjadi pasca-meninggalnya korban. Pembunuhan bisa didorong tekanan ekonomi atau sakit hati, tapi tindakan memotong-motong jasad adalah cara pelaku memperlakukan korban setelah eksekusi. Di situlah kita perlu melihat melalui asesmen, bagaimana pola pikir pelaku sehingga memilih cara tersebut," ungkapnya.
Penjelasan ini menegaskan bahwa tindakan mutilasi memiliki dimensi psikologis yang lebih kompleks dan tidak dapat disederhanakan hanya pada motif dasar kejahatan.
pelaku mutilasi di samarinda
mutilasi di samarinda
kasus mutilasi di samarinda terbaru
psikologi
Universitas Mulawarman
Unmul
Dosen Psikologi
psikopat
Samarinda
TribunKaltim.co
TribunBreakingNews
| Cucu Tersangka Jadi Saksi Kunci Kasus Mutilasi di Samarinda, Eksekusi Dini Hari di Rumah Pelaku |
|
|---|
| Fakta Baru Mutilasi Samarinda, Pelaku Rusmini Jadi Otak Pembunuhan, Rancang Aksi dan Alat Eksekusi |
|
|---|
| Kasus Mutilasi Samarinda, 2 Saksi Kunci Anak di Bawah Umur Lihat Langsung Detik-Detik Pembunuhan |
|
|---|
| Kasus Mutilasi di Samarinda saat Lebaran, Potongan Tubuh Ditemukan Dalam Karung, Pelaku Sakit Hati |
|
|---|
| Polisi Bakal Periksa Kejiwaan 2 Tersangka Mutilasi di Samarinda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260323_Mutilasi.jpg)