Berita Samarinda Terkini
Uji Coba Insinerator Samarinda, Mesin Siap Seratus Persen Tapi SDM Masih Jadi PR Besar
Progres operasional 10 unit insinerator di Kota Samarinda mulai memasuki tahap uji coba, meski masih dihadapkan pada sejumlah tantangan teknis
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,SAMARINDA — Progres operasional 10 unit insinerator di Kota Samarinda mulai memasuki tahap uji coba, meski masih dihadapkan pada sejumlah tantangan teknis dan sumber daya manusia.
Pemerintah Kota (Pemkot) melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memastikan seluruh unit telah terpasang, namun pengoperasian dilakukan secara bertahap sambil menunggu kesiapan operator.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menyampaikan bahwa seluruh insinerator secara fisik telah rampung dan siap digunakan.
“Dari 10 unit insinerator alhamdulillah 100 persen sudah terakit semua, sudah terpasang dan terinstalasi semua,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Meski demikian, proses uji coba masih difokuskan pada beberapa titik terlebih dahulu dengan pendekatan bertahap seiring peningkatan kemampuan operator.
Baca juga: Jelang Beroperasi, Insinerator di Samarinda Segera Dilengkapi Sistem Keamanan
“Jadi memang kami terpusat dulu masih yang di kawasan Polder. Selanjutnya rencana kita uji coba mesin yang di Jalan Wanyi. Yang di Loa Bahu sudah kita uji coba,” jelasnya.
Menurut Taufiq, kendala utama saat ini bukan pada mesin, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia.
Operator insinerator direkrut dari masyarakat umum yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman dalam pengelolaan sampah.
“Karena mengeksekusi petugas atau operatornya bukan hal yang gampang. Karena mereka kita rekrut bukan dari tenaga internal DLH, kita rekrut dari masyarakat yang notabene mereka belum terbiasa dengan masalah persampahan, soal pemilahan dan sebagainya, jadi itu betul-betul dari nol,” terangnya.
Ia menambahkan, dalam dua bulan terakhir, proses pelatihan masih terus berlangsung untuk membentuk keterampilan dasar operator, mulai dari pemilahan hingga pengoperasian mesin.
Dari sisi kapasitas, Taufiq mengungkapkan bahwa performa insinerator saat ini belum mencapai titik optimal.
“Kalau kisarannya karena masih belum sempurna, kalau efektif kan bisa mencapai 8 ton, tapi kami belum mencapai itu, sekitar 5–6 ton,” katanya.
Kendala lain yang dihadapi adalah proses awal pembakaran yang membutuhkan bahan bakar khusus untuk mencapai suhu ideal.
“Kendala juga yang kami hadapi bahan bakar di awal, karena di awal itu perlu kayu. Kalau pakai plastik dan media lain itu asapnya agak banyak. Jadi memang harus kayu dulu, ketika suhunya sudah konstan di 800–900 derajat baru bisa jenis sampah lain,” paparnya.
Ia menjelaskan, proses pemanasan tidak dapat dilakukan secara instan dan membutuhkan waktu serta teknik yang tepat.
| Hetifah Sjaifudian Gelar Workshop Pendidikan di Samarinda, Libatkan 100 Guru dan Komite |
|
|---|
| Target 2,5 Kali Panen per Tahun, Pemkot Samarinda Evaluasi Kendala Irigasi di Wilayah Pertanian |
|
|---|
| Harga Solar Non Subsidi Naik, Akademisi Unmul Samarinda Ingatkan Risiko Efek Berantai |
|
|---|
| Idul Adha 2026, Dinas Ketapangtani Samarinda Lakukan Pengawasan Hewan Ternak Agar Terbebas dari PMK |
|
|---|
| Jadwal Mati Air di Samarinda 7 Mei 2026, Ini Daftar Daerah Terdampak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260331-Insinerator.jpg)