Selasa, 5 Mei 2026

Berita Mahulu Terkini

Setahun Asni Mengajar di Hulu Mahakam, Antara Riam, Lumpur dan Harapan

Tepat dua hari usai peringatan Hari Pendidikan Nasional, genap satu tahun Asni mengajar di pedalaman Mahakam Ulu

Tayang:
Penulis: Desy Filana | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/Desy Filana
MENGABDI -  Lingkungan dan Fasilitas sekolah SMPN 3 Long Pahangai Mahulu tempat Asni mengabdi pada Oktober tahun 2025 lalu. Guru Bahasa Inggris berstatus PPPK yang kini mengabdi di SMP Negeri 3 Long Pahangai itu harus menapaki jalan licin, menanjak, dan berlumpur hanya untuk sampai ke ruang kelas. (TRIBUNKALTIM.CO//DESY FILANA) 

TRIBUNKALTIM.CO, UJOH BILANG - Pagi di Long Pakaq, Mahakam Ulu tak pernah benar-benar mudah bagi Asni.

Guru Bahasa Inggris berstatus PPPK yang kini mengabdi di SMP Negeri 3 Long Pahangai itu harus menapaki jalan licin, menanjak, dan berlumpur hanya untuk sampai ke ruang kelas.

Sepasang alas kaki kerap dijinjing di tangan, sementara kaki telanjang menapak tanah becek yang menjadi “karpet” harian menuju sekolah.

Tepat dua hari usai peringatan Hari Pendidikan Nasional, genap satu tahun Asni mengajar di pedalaman Mahakam Ulu.

Ia tak menampik, awalnya ia sempat menolak penempatan tersebut.

“Yang pertama kali terlintas, saya tidak mau ke Long Pakaq,” ujarnya, mengingat awal penugasan.

Baca juga: Seleksi Tambahan Digelar, 9 Bakal Calon Petinggi Kampung Ujoh Bilang Mahulu Disaring Jadi 5 Kandidat

Alasannya sederhana tapi berat: akses. Jalur darat nyaris tak memungkinkan, sementara jalur sungai harus menembus riam- riam ekstrem seperti Riam Udang dan Riam Panjang, arus deras yang tak jarang memakan korban.

Namun keputusan sudah diambil. Asni berangkat, dan sejak itu hidupnya berubah.

Rutinitasnya kini jauh dari bayangan banyak orang tentang profesi guru.

Jalan kampung memang sudah disemenisasi, tetapi akses menuju sekolah masih berupa tanjakan licin yang berubah menjadi lumpur licin saat hujan turun.

Setibanya di sekolah, kondisi tak jauh berbeda lantai kelas kerap kotor oleh jejak lumpur siswa.

“Di dalam kelas, kebersihan memang sulit dijaga. Lingkungan sekolah belum tersentuh semenisasi,” katanya.

Tantangan tak berhenti di situ. Di SMPN 3 Long Pahangai yang ada di kampung Long Pakaq, listriknya belum tersedia.

Internet pun nyaris tak bisa diandalkan. Perangkat penunjang belajar seperti Proyektor tak bisa digunakan, bahkan jika tersedia.

Sekolah hanya mengandalkan tenaga surya dengan kapasitas terbatas.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved