Berita Kutim Terkini
Indeks Perkembangan Harga di Kutim Awal Mei Turun Jadi 1,63 Poin, TPID Gencarkan Pasar Murah
Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Kabupaten Kutai Timur mengalami penurunan pada awal Mei 2026
Penulis: Nurila Firdaus | Editor: Nur Pratama
TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memantau fluktuasi harga kebutuhan pokok di wilayahnya.
Melalui data terbaru, tercatat bahwa Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Kabupaten Kutai Timur mengalami penurunan pada awal Mei 2026 dibandingkan periode sebelumnya pada bulan April.
Penurunan ini menjadi indikator positif bagi stabilitas ekonomi daerah, meskipun beberapa komoditas tertentu masih menunjukkan tren kenaikan harga.
Pemantauan ini dilakukan secara intensif mengingat Kutai Timur tidak diukur menggunakan angka inflasi langsung seperti Samarinda atau Balikpapan, melainkan menggunakan instrumen IPH.
Baca juga: Polres Kutim Ancam Sanksi Tegas Penimbun BBM, SPBU Wajib Gunakan Barcode
Berdasarkan data yang dirilis, IPH Kutai Timur pada minggu kedua April 2026 berada di angka 1,82 poin. Memasuki minggu pertama Mei 2026, angka tersebut melandai ke posisi 1,63 poin.
Hal itu menunjukkan adanya tren deflasi tipis atau penurunan tekanan harga pada mayoritas bahan pokok penting (Bapokting).
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkab Kutim, Noviari Noor, menjelaskan mengenai indikator pengukuran tersebut.
"Update Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Kabupaten Kutai Timur mengalami penurunan. Sebelumnya pada minggu kedua bulan April itu 1,82 poin, sedangkan pada minggu pertama bulan Mei ini menjadi 1,63 poin," ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Meski secara umum IPH menurun, terdapat tiga komoditas utama yang menjadi perhatian serius karena masih mengalami kenaikan harga.
Ketiga komoditas tersebut meliputi :
- Daging sapi,
- Telur ayam ras, dan
- Cabai rawit.
Kenaikan ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari rantai pasok hingga ketergantungan pada daerah luar.
Khusus untuk komoditas telur ayam ras, Kutai Timur sempat masuk dalam radar pantauan nasional oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Pasalnya, Kutai Timur masuk dalam jajaran 10 besar kabupaten dengan kenaikan harga telur ayam ras yang cukup signifikan di Indonesia.
Noviari Noor membeberkan bahwa ketimpangan antara produksi lokal dan konsumsi menjadi penyebab utama kenaikan harga telur.
"Suplai lokal kita hanya 147 ton dari peternak lokal, sedangkan kebutuhannya kurang lebih 470 ton per bulan. Jadi, telur ayam ini didatangkan dari luar daerah seperti Samarinda, Berau, dan Kutai Kartanegara," jelasnya.
| Polres Kutim Ancam Sanksi Tegas Penimbun BBM, SPBU Wajib Gunakan Barcode |
|
|---|
| Bus Sekolah Listrik Pertama Hadir di Kutim, Sasar Siswa SMA 2 Sangatta Utara, Cek Rutenya |
|
|---|
| Kabar Gembira bagi Honorer di Kutim, Kadisdikbud Pastikan Tak Ada Pemberhentian Massal 2026 |
|
|---|
| Pataka Jadi Senjata Baru Kutim, Hubungkan Pekerja dan Lowongan dalam Satu Platform |
|
|---|
| Tuntut Kejelasan Status, Forum Tenaga Honorer Kutai Timur Desak Pengangkatan ASN di 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260505_Asisten-II-Bidang-Ekonomi-dan-Pembangunan-Setkab-Kutim-Noviari-Noor.jpg)