Ekonomi Bisnis
Kaltim Hadapi Paradoks Ekonomi, Dosen UINSI Analisis Ekspor Untung dan Rakyat Tertekan
Nilai tukar rupiah dibuka melemah di level Rp17.614 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan di Samarinda
Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Nilai tukar rupiah dibuka melemah di level Rp17.614 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan pada Jumat (15/5/2025).
Angka ini dinilai menjadi sinyal kekhawatiran sekaligus memunculkan dinamika tersendiri bagi perekonomian Kalimantan Timur.
Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif, menyebut penguatan dolar kali ini dipicu oleh kombinasi beberapa tekanan global yang terjadi bersamaan.
"Kenaikan dolar itu sebenarnya banyak dipengaruhi beberapa faktor. Misalnya kita lihat suku bunga tinggi di Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, terus peningkatan harga energi dunia. Terus ada perpindahan arus modal dari negara berkembang ke negara-negara yang maju," ujarnya melalui pesan suara Whatsapp, Jumat (15/5/2026).
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ekonom: Belum Dirasakan Merata oleh Kelas Menengah dan Sektor Riil
Syarif, begitu dia akrab disapa menjelaskan, memasuki pertengahan Mei, dolar sudah bertengger di kisaran Rp17.600.
Kondisi ini perlu dibaca secara cermat dalam konteks struktur ekspor Kaltim yang nilainya mencapai sekitar 21 miliar USD, dengan sekitar 70 persen di antaranya bersumber dari batu bara.
Karena sebagian besar transaksi ekspor Kaltim terutama di sektor batu bara dan minyak serta gas bumi dilakukan dalam denominasi dolar, penguatan mata uang Amerika itu secara langsung mengerek penerimaan perusahaan-perusahaan eksportir.
Imbasnya mengalir ke keuangan daerah, potensi penerimaan royalti dan pajak ikut meningkat, dan perputaran ekonomi di kawasan-kawasan tambang turut bergerak lebih aktif.
Baca juga: 10 Provinsi dengan Pertumbuhan Ekonomi Terendah Triwulan I 2026, Salah Satunya Kaltim
"Karena mayoritas ekspor Kaltim itu menggunakan dolar, terutama di batu bara dan migas, maka sebenarnya kenaikan dolar itu bisa meningkatkan penerimaan perusahaan, khususnya eksportir," jelas Syarif.
Hal inilah yang menurutnya menjadi salah satu faktor mengapa daerah-daerah seperti Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara relatif mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak nilai tukar.
IKN Terancam Biaya Bengkak
Namun di balik keuntungan sektor ekspor, Syarif mengingatkan ada dampak serius yang mengintai proyek strategis nasional Ibu Kota Nusantara.
Pembangunan IKN masih sangat bergantung pada komponen impor, mulai dari alat berat, teknologi, hingga material konstruksi. Ketika dolar menguat, seluruh komponen itu otomatis menjadi lebih mahal.
"Ketika dolar naik, alat berat, teknologi, komponen konstruksi, terus material yang tergantung dari bahan impor, itu pasti membuat biaya pembangunan IKN itu meningkat juga. Jadi dalam jangka panjang itu bisa aja mempengaruhi efisiensi pembangunannya," tuturnya.
Tekanan berikutnya datang dari sisi yang paling dirasakan langsung oleh masyarakat.
Provinsi Kalimantan Timur, dinilai Syarif, memiliki kerentanan struktural yang sudah lama menjadi perhatian, yakni distribusi barang yang masih sangat bergantung pada transportasi laut dan impor antarpulau.
| Negosiasi AS-Iran Buntu, Harga Minyak Dunia Melonjak hingga 107 Dollar AS per Barrel |
|
|---|
| Inflasi Maret di Balikpapan Melandai, Harga Bensin dan Cabai jadi Pemicu Utama |
|
|---|
| Terendah di Kalimantan Utara, Inflasi Nunukan Maret 2026 Terkendali di Angka 1,96 Persen |
|
|---|
| Nilai Minyak Dunia Melejit Imbas Perang, Pertamina Pastikan Harga BBM di Indonesia Belum Naik |
|
|---|
| Okupansi Swiss-Belhotel Balikpapan Turun Signifikan, Efisiensi Anggaran jadi Faktor Utama |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260515_Pertembuhan-Ekonomi-Indonesia-di-Kaltim.jpg)