Berita Kukar Terkini
Menggali Pemikiran dan 3 Peran Sultan AM Idris, Bukan Sekadar Nama Rumah Sakit di Muara Badak Kukar
Sultan AM Idris tercatat pernah membantu Sultan Wajo melawan VOC sebagai bentuk perlawanan terhadap upaya penjajahan
Penulis: Patrick Vallery Sianturi | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Semangat perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris kembali digaungkan kepada generasi muda dalam Forum Diskusi Publik Hari Buku Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional 2026 di Tangga Arung Square, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur pada Senin (18/5/2026).
Kegiatan bertema “Pahlawan Nasional Sultan Aji Muhammad Idris; Spirit Masa Silam dan Teladan Masa Kini” itu menghadirkan budayawan Kalimantan Timur Muhammad Sarip, Bupati Aulia Rahman Basri, serta Pemuda Pelopor Kaltim 2024 bidang pendidikan Ada Al Ali Murrabbaniah.
Forum yang digelar Lasaloka KSB bersama SMSI Kutai Kartanegara itu diikuti pelajar, mahasiswa, komunitas literasi, jurnalis, hingga sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Kukar.
Diskusi dipandu praktisi media Kalimantan Timur, Ricardo Bobby Lolowang.
Baca juga: RSUD Aji Muhammad Idris di Kecamatan Muara Badak Kukar Siap Layani Pasien Pertengahan 2026
Dalam pemaparannya, Muhammad Sarip menilai Sultan AM Idris bukan hanya tokoh penting Kesultanan Kutai Kartanegara, tetapi juga figur pejuang Nusantara yang memiliki pengaruh besar pada abad ke-18.
Menurutnya, Sultan AM Idris tercatat pernah membantu Sultan Wajo melawan VOC sebagai bentuk perlawanan terhadap upaya penjajahan dan perampasan kedaulatan Nusantara.
“Sultan Aji Muhammad Idris adalah tokoh pejuang dengan jejak sejarah yang melampaui Kalimantan Timur,” ujarnya.
Sarip menjelaskan, keteladanan Sultan AM Idris dapat dilihat dari tiga sisi utama, yakni:
- Sebagai tokoh budaya Kutai;
- Pejuang anti-penjajahan;
- dan penyebar dakwah Islam yang inklusif.
Ia juga menyebut pada masa kepemimpinan Sultan AM Idris lahir sejumlah pemikiran penting terkait tata pemerintahan kesultanan, termasuk penyusunan kitab Panji Salatin hingga Undang-Undang Beraja Nanti.
Selain itu, Sarip mengingatkan bahwa wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa lalu mencakup kawasan luas di Kalimantan Timur, termasuk wilayah yang kini menjadi kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Ketika bicara Samarinda, Balikpapan, Bontang, Kutai Timur, Kutai Barat hingga kawasan IKN, itu dahulu bagian dari Kesultanan Kutai Kartanegara,” katanya.
Memahami Besarnya Perjuangan
Sementara itu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengaku semakin memahami besarnya perjuangan Sultan AM Idris setelah mempelajari sejarah pengusulan gelar pahlawan nasional tokoh tersebut.
Menurut Aulia, semangat patriotisme Sultan AM Idris masih relevan diterapkan generasi muda saat ini, terutama dalam menghadapi tantangan masa depan.
“Beliau memiliki kenyamanan sebagai seorang sultan, tetapi rela meninggalkan semuanya demi membantu melawan VOC dan membela tanah kelahirannya,” ucap Aulia.
Ia menilai, keberanian meninggalkan zona nyaman demi kepentingan bangsa menjadi teladan penting yang perlu diwariskan kepada generasi muda Kutai Kartanegara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260518_RSUD-Sultan-AM-Idris-Muara-Badak.jpg)