Minggu, 7 Juni 2026

Berita Kaltim Terkini

Rupiah Melemah, Pengusaha Batu Bara di Kaltim Mulai Tercekik karena Tingginya Biaya Produksi

Kenaikan dolar berbanding lurus dengan lonjakan harga BBM jenis solar yang merupakan komponen vital operasional tambang

Tayang:
Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Nur Pratama
TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD FAIROUSSANIY
RUPIAH MELEMAH - Ilustrasi batu bara melintas di alur Sungai Mahakam Kota Samarinda. Kenaikan dolar berbanding lurus dengan lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang merupakan komponen vital operasional tambang. (TRIBUNKALTIM.CO/ MOHAMMAD FAIROUSSANIY) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Mata uang rupiah kembali tersungkur melawan ‘ganas’ nya dolar Amerika Serikat yang menembus level 17.646,00 Rupiah pada perdagangan Rabu (20/5/2026) sore. 

Kondisi ini pun mulai mencekik biaya produksi para pengusaha batu bara di Bumi Etam.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Kaltim, Adnan Faridhan merespons kondisi ini.

pelemahan rupiah ini menjadi pukulan telak bagi industri ekstraktif di Kaltim

Pasalnya, kenaikan dolar berbanding lurus dengan lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang merupakan komponen vital operasional tambang.

Baca juga: 3 Alasan Pendemo Kepung Markas 7 Parpol di Samarinda, Buntut Hak Angket DPRD Pasca-demo 21 April

"Minyak kita masih impor dan transaksinya menggunakan dolar. Begitu dolar naik, harga BBM otomatis ikut meroket. Bayangkan, biaya bahan bakar itu porsinya bisa mencapai 40 hingga 45 persen dari total biaya produksi," beber Adnan kepada TribunKaltim.co.

Meski harga batu bara global masih cukup kuat memberikan bantuan, namun kenaikan biaya operasional yang gila-gilaan memaksa perusahaan melakukan strategi efisiensi tingkat tinggi agar tidak gulung tikar.

Beberapa langkah ikat pinggang yang kini jadi standar di lapangan sudah nampak terlihat. 

Audit presisi, dengan menghitung jarak pengupasan overburden (OB) yang lebih ketat dilakukan penambang.

Pengaturan ulang stripping ratio agar tetap ekonomis, hingga nasib paling kritis dialami kontraktor murni yang terikat kontrak lama saat harga solar dan dolar masih jauh di bawah angka hari ini.

“Efisiensi dan strategi dalam operasional tambang juga kini ikut dalam tanda kutip dipangkas,” sebut Adnan.

Ia juga menyebut ada yang jauh lebih menakutkan bagi keberlangsungan tambang ketimbang urusan kurs, yakni revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang tak kunjung mulus di tingkat pusat.

Ia menyoroti banyaknya perusahaan yang harus gigit jari karena volume produksi mereka dibatasi oleh pemerintah pusat, dan rencana pemangkasan RKAB yang terus menghantui ini akhirnya tidak sesuai dengan rencana kerja yang sudah diajukan.

"Masalah utama sebenarnya di RKAB. Percuma harga bagus kalau kuota produksinya dibatasi, otomatis penjualan kita juga terbatas. Ini yang membuat laju ekonomi industri kita tersendat," tegasnya.

Adnan mengingatkan bahwa lesunya industri batu bara akan langsung berdampak pada ekonomi daerah. 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved