Idul Adha 2026
Dampak Harga BBM Naik, Sapi Kurban Iduladha di Samarinda Mahal dan Daya Beli Rendah
Harga BBM naik turut berdampak pada harga sapi kurban yang dijual menjelang Idul Adha tahun ini di Kota Samarinda, Kalimantan Timur
Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) turut berdampak pada harga sapi kurban yang dijual menjelang Idul Adha tahun ini di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.
Bukan hanya harga yang naik, minat pembeli pun dilaporkan ikut menyusut
Di Kota Samarinda, peternak sapi menyebut adanya kenaikan harga jual sapi kurban sebagai imbas dari penyesuaian harga BBM yang diberlakukan Pertamina pada 4 Mei 2026 lalu, khususnya untuk jenis BBM non-subsidi.
Salah satu peternak yang merasakan langsung dampaknya adalah Hartaty, pemilik peternakan sapi Sutha Samarinda.
Baca juga: Jelang Shalat Idul Adha 2026, Bupati Kutim Ardiansyah Dijadwalkan Hadir di Masjid Al-Faruq Sangatta
Wanita yang setiap tahunnya menjual ratusan ekor sapi untuk kebutuhan kurban ini mengakui bahwa kenaikan harga BBM menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga sapi ikut merangkak naik.
"Kalau kenaikan harga pastinya kenaikan, karena ada kenaikan harga BBM kan, itu pasti naik," ujar Hartaty kepada TribunKaltim.co pada Senin (25/5/2026)
Di lapaknya yang berlokasi di Jalan Wahid Hasyim, Samarinda, sapi-sapi kurban dijajakan dengan rentang harga mulai dari Rp14 juta hingga ratusan juta rupiah, tergantung jenis dan ukurannya.
Mayoritas sapi yang tersedia di lapak tersebut merupakan jenis sapi Bali, yang memang paling banyak diminati masyarakat saat musim kurban tiba.
Dibandingkan tahun sebelumnya, harga di tahun ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Baca juga: 3 Pemicu Turunnya Penjualan Hewan Kurban di Balikpapan, Stok Sapi dan Kambing Dipastikan Aman
Hartaty menyebutkan bahwa harga terendah sapi di lapaknya kini berada di angka Rp14 juta per ekor, naik dari tahun lalu yang masih bisa didapat di kisaran Rp12 juta.
"Ya, tahun lalu saya masih jual 12 juta terendah, sekarang 14 juta. Ya, yang paling kecil tahun lalu 12, tahun sebelumnya malah 10 juta," kata Hartaty.
Tak hanya soal harga, Hartaty juga menyoroti kondisi penjualan yang ia nilai jauh lebih sepi dibanding tahun sebelumnya.
Ia menduga lesunya pasar sapi kurban tahun ini erat kaitannya dengan kondisi perekonomian masyarakat yang makin sulit.
Baca juga: Harga Sapi Kurban di Balikpapan Anjlok, Peternak Lokal Ungkap Tertekan Sapi Luar Daerah
Sehingga banyak calon pembeli yang menunda atau mengurungkan niatnya membeli sapi.
"Ya tahun ini, kalau tahun-tahun kemarin itu saya bisa jual sampai 500-600 ekor, itu dalam satu tahun, dalam Iduladha aja, tapi kalau tahun ini ya mungkin masih di bawah 200 lah," pungkas Hartaty. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260525_Sapi-di-Kalimantan-Timur-Turun-Penjualan.jpg)