Berita Samarinda Terkini
DLH Samarinda Evaluasi Operasional 10 Unit Insinerator Sampah, Terapkan Strategi TPS Terpilah
Samarinda tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional 10 unit insinerator sampah.
Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Budi Susilo
Ringkasan Berita:
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional 10 unit insinerator ramah lingkungan yang sedang dalam tahap uji coba.
Hasilnya, ditemukan kendala signifikan pada efisiensi pembakaran akibat tingginya kadar sampah basah yang tercampur di Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, mengungkapkan bahwa pola pengambilan sampah langsung dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS) menuju insinerator terbukti tidak efektif.
"Kami mencoba membawa sampah segar langsung dari TPS ke insinerator, namun proses pemilahannya memakan waktu yang sangat lama," ujar Taufiq kepada TribunKaltim.co pada Jumat (12/6/2026).
Baca juga: DLH Samarinda Targetkan Seluruh Truk Sampah Terpasang GPS Tahun Depan
Data di lapangan menunjukkan bahwa satu unit dump truck dengan muatan 3 hingga 4 ton sampah campuran membutuhkan waktu hingga lima hari hanya untuk proses pemilahan.
Akibatnya, hanya sepertiga dari total muatan yang berhasil terbakar, sementara sisanya harus kembali diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Sebaliknya, saat menggunakan sampah yang telah terpilah, proses pembakaran menjadi jauh lebih efisien. Insinerator berkapasitas 3 ton mampu menyelesaikan proses pembakaran dalam waktu kurang dari setengah hari.
"Ketika sampah sudah terpilah, petugas hanya perlu menyisihkan limbah B3 yang tidak boleh dibakar. Sisanya bisa langsung masuk ke mesin tanpa perlu pemilahan ulang yang memakan waktu," jelas Taufiq.
Peluncuran TPS Terpilah
Belajar dari pengalaman sebelumnya, DLH Samarinda kini menyiapkan strategi "TPS Terpilah" sebagai pemasok utama bagi insinerator.
Rencananya, program ini akan dimulai sebagai pilot project di TPS Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang.
Untuk memastikan keberhasilan program, Taufiq menekankan pentingnya akses yang terbatas pada TPS tersebut.
Ia mencontohkan perbedaan efektivitas antara TPS dengan akses warga lokal dibanding TPS di pinggir jalan yang aksesnya terbuka untuk umum.
"Jika aksesnya terbatas, target edukasi kita menjadi lebih jelas dan terarah. Kami belajar dari upaya sebelumnya yang belum berhasil agar kali ini lebih optimal," tambahnya.
Partisipasi Warga jadi Pilar Utama
Ke depannya, pola pengelolaan sampah akan bertumpu pada kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260401_mesin-insinerator-di-Samarinda-Seberang.jpg)