Harga Pertamax Naik
Ojek Online di Samarinda Keluhkan Kenaikan Harga BBM dan Antrean Panjang
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi pada 10 Juni lalu mendapat keluhan dari kalangan ojek online
Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Samir Paturusi
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga BBM nonsubsidi memicu antrean panjang di SPBU Samarinda karena warga beralih ke Pertalite
- Pengemudi ojek daring mengeluhkan penurunan pendapatan bersih akibat kenaikan biaya operasional
- Haidin Wahyu, seorang mahasiswa sekaligus pengemudi ojol, menyatakan kenaikan harga sangat memberatkan masyarakat
- Para pengemudi berharap pemerintah menurunkan harga BBM atau menaikkan Upah Minimum Regional (UMR)
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi pada 10 Juni lalu mendapat keluhan dari kalangan ojek online.
Di Samarinda, antrean mengular di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjadi hal yang tak terhindarkan, terlebih untuk kendaraan roda dua.
Banyak warga yang beralih memilih BBM subsidi jenis Pertalite sebab harganya masih normal di kisaran Rp 10 ribu, sehingga membuat antrian menjadi semakin panjang.
Ditemui usai mengantre BBM Pertalite di sebuah SPBU di Jalan Juanda, seorang driver ojek online, Haidin Wahyu, mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM ini sangat memberatkan masyarakat.
Baca juga: Kelangkaan BBM Subsidi di Kutai Barat Belum Kelar, APMS Temui Bupati Kubar
"Ini sangat memberatkan bagi orang-orang yang menggunakan pertamax, karena harganya naik drastis. Dari Rp12.500 jadi Rp16.500 itu sangat memberatkan warga," ucapnya, Jumat (12/6/2026).
Di bawah terik Kota Tepian, Haidin mengantre sejak SPBU dibuka selepas waktu istirahat shalat Jumat.
Ia menyebut antrean kali ini memakan waktu sekitar 15 menit, padahal biasanya hanya sekitar 5 menit.
Menurutnya, kondisi ini cukup menyita waktu yang biasa ia gunakan untuk beristirahat atau kembali mencari penumpang.
Saat ditanya alasan tetap memilih Pertalite meski harus mengantre panjang, ia menjawab bahwa pilihan tersebut tak lepas dari kebutuhan kendaraannya sebagai alat kerja.
"Karena ini motor buat ngojol. Sedangkan ngojol itu kan kita perjalanan setiap hari jauh, butuh bensin yang murah. Lebih ke arah harga sih kita," katanya.
Selain soal antrian BBM, Haidin juga mengaku belakangan ini jumlah penumpang yang menggunakan jasanya semakin sepi.
Dari segi pendapatan, ia menjelaskan bahwa biasanya bisa mendapatkan penghasilan kotor sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per hari.
Baca juga: Rupiah Melemah dan BBM Naik, BEM KM Unmul Malam Ini Konsolidasi Bahas Aksi Turun ke Jalan
Namun belakangan ini, pendapatan kotornya hanya berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu, sementara pendapatan bersihnya hanya sekitar Rp70 ribu hingga Rp100 ribu setelah dipotong biaya bensin, makan, dan kebutuhan operasional lainnya.
Haidin juga menceritakan bahwa dirinya merupakan seorang mahasiswa Politeknik Negeri Samarinda yang menjalani profesi sebagai ojek online sebagai pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan.
Di akhir perbincangan, ia menyampaikan harapannya kepada pemerintah agar mempertimbangkan kembali kebijakan kenaikan harga BBM tersebut.
"Untuk pemerintah ke depannya semoga harga BBM-nya turun aja sih, kembali seperti semula. Atau nggak apa-apa harganya tetap, tapi UMR-nya dinaikkan," harapnya.
| Massa BEM UI dan Driver Ojol Tembus Blokade Polisi-TNI di Bundaran HI, Aksi Makin Ramai |
|
|---|
| Dampak Kenaikan Harga Pertamax dan Biaya Perawatan Motor bagi Ojol Sangatta |
|
|---|
| Aksi Mahasiswa 12 Juni 2026 Disorot Media Asing, Ini Isu Ekonomi yang Jadi Sorotan |
|
|---|
| Harga Pertamax Rp16.650, Driver Taksi Online di Samarinda Pilih Setia Antre Pertalite |
|
|---|
| Bahlil Ungkap Alasan Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Driver-ojek-online-Haidin-Wahyu.jpg)