Geliat-Urbanlife
Mengurangi Limbah Menambah Rupiah
Bila dikumpulkan dan dipilah sesuai jenisnya, ternyata sampah bisa menghasilkan sedikit rupiah sebagai pemasukan tambahan keluarga.
TRIBUNKALTIM.co.id - Sampah bagi sebagian keluarga dianggap sebagai barang tak bernilai. Namun, bila dikumpulkan dan dipilah sesuai jenisnya, ternyata sampah bisa menghasilkan sedikit rupiah sebagai pemasukan tambahan keluarga.
Hal inilah yang dilakoni Sobirin serta 20 Ketua RT lainnya di Kelurahan Gunung Samarinda Balikpapan Utara sejak setahun belakangan ini. Melalui Bank Sampah Gurinda, mereka mengubah sampah menjadi uang. Memberi penghasilan tambahan bagi sebagian keluarga yang menjadi nasabah dari Bank Sampah Gurinda.
Saat ini, Bank Sampah Gurinda telah memiliki 119 nasabah dengan dana yang terhimpun mencapai Rp 17 jutaan. "Mekanisme kerja Bank Sampah Gurinda lebih pada menjemput bola. Dari 76 RT (sebelum pemekaran, red) sudah aktif bergabung 21 RT dan menjadi Bank Sampah Unit RT. Warga cukup mengumpulkan sampahnya pada unit RT di sekitar pemukimannya, nanti kami dari Bank Sampah Gurinda yang mengambil ke unit RT bila sudah cukup banyak. Biasanya bisa sepekan sekali, dua pekan atau sebulan sekali," ungkap Sobirin, Direktur Bank Sampah Gurinda.
Namun, sebagian warga ada pula yang langsung menyetorkan sampahnya ke Bank Sampah Gurinda yang terletak bersebelahan dengan Kantor Kelurahan Gunung Samarinda. Biasanya kalau dari warga sampah yang diantar masih campuran. Belum dipilah-pilah. Ada plastik, kertas atau kardus. "Harganya tentu beda kalau belum dipilah dengan yang sudah dipilah. Kalau sudah dipilah, harganya lebih mahal. Tapi kebanyakan warga tidak memilah sampahnya. Seperti kertas dan koran, mereka antar saja, padahal setelah kami pilah, ternyata ada yang termasuk HVS yang harganya bisa lebih mahal," kata Sobirin.
Di Bank Sampah Gurinda, sampah yang disetor dibagi dalam empat kategori utama. Kertas, plastik, besi dan botol. Kertas meliputi HVS yang dibandrol dengan harga tertinggi Rp 800 per Kg, diikuti duplek yang memiliki harga terendah, yakni Rp 200 per Kg, kemudian, koran dan kardus yang dibandrol Rp 700 per Kg.
Sementara untuk plastik, mencakup kemasan air mineral gelas maupun botol, ember, aki, karung beras, jerigen dan plastik tebal seperti tempat makanan. Selain karung yang dihitung per satuan Rp 175 dan jerigen Rp 500, lainnya dihitung per Kg oleh bank sampah.
Untuk botol yang meliputi botol bir, sirup, miras dan kecap dihitung per satuan. Harga botol kaca termahal adalah botol bir ukuran besar. Yakni Rp 500 per botol. Sedangkan untuk kategori besi yang meliputi besi, tembaga, alumunium, kaleng dan recek, menurut Sobirin masih mengikuti harga pasar. "Sampah-sampah yang sudah disetorkan ke bank sampah, selain dipilah sesuai kategori, juga dibersihkan lagi oleh petugas bank sampah, agar bisa memperoleh harga yang lebih baik.
Seperti gelas air mineral, harganya akan lebih tinggi bila sudah bersih dari plastik penutupnya. Begitu juga kemasan botol, akan lebih bernilai bila sudah polos atau tidak ada plastik merek minuman," aku Sobirin.
Setelah cukup 1 sampai 2 ton dan telah melalui proses pemilahan, Bank Sampah Gurinda akan memanggil bos pengepul sampah untuk mengangkut sampah. "Setiap bulan biasanya kita panggil bos pengepul untuk mengangkut sampah kami. Rata-rata setiap bulan terkumpul 1,5 ton sampah. Bisa lebih. Karena kalau sedang banyak, satu RT saja bisa menyetorkan sampah sampai 1 ton per bulan," ungkap Sobirin.