Salam Tribun

Transformasi Dubai

Pagi, November 2000. Jelang musim dingin hawa terasa menyejukkan, setelah 8 bulan negeri gurun pasir itu didera udara panas yang menggerahkan badan.

ACHMAD BINTORO_SALAM 

Salam Tribun

TRANSFORMASI DUBAI

Oleh ACHMAD BINTORO

Pagi, November 2000. Jelang musim dingin hawa terasa menyejukkan, setelah 8 bulan negeri gurun pasir itu didera udara panas yang menggerahkan badan. Tapi tidak bagi Menteri Perminyakan Dubai. Punggung tangannya berkeringat di balik kondura-nya warna bengkoang. Ia tergopoh mendatangi rajanya, Mohammed bin Rasyid Al-Maktoum di Dubai.

"Maaf Sheikh, cadangan minyak kita akan habis tahun 2016." Sheikh adalah panggilan untuk orang berilmu. Tapi di beberapa kawasan Arab, juga di Dubai maupun Uni Emirat Arab (UEA), keluarga kerajaan juga dipanggil dengan sebutan ini.

Betapa panik Emir Dubai saat itu. Sheikh Mohammed kemudian berpikir keras bagaimana supaya daerah otonomnya kelak tetap dapat survive saat minyak benar-benar habis. Suatu malam letika memandang bulan purnama, ia mendapat inspirasi dari negara kecil di Asia Tenggara, Singapura. Negeri kecil dan tidak memiliki sumberdaya alam itu ternyata mampu menjadi destinasi wisata banyak orang dari seluruh dunia. Kenapa tidak dengan Dubai?

Sheikh segera memanggil para menterinya. "Apa yang kita punya saat ini, cepat katakan?" Ruang rapat itu sejenak hening. Tidak jelas apakah mereka benar-benar tidak memiliki solusi atau tidak punya keberanian menjawab pertanyaan sang raja dari dinasti al-Maktoum ini -- dinasti yang sudah memimpin Dubai sejak 1833 -- yang juga menjadi Perdana Menteri dan Wakil Presiden Uni Emirat Arab (UEA).

Baca: Dana Aspirasi Parlemen

"Ada Yang Mulia." Jawaban seorang seorang menteri memecah keheningan. "Kita miliki 3S, sand (pasir), sea (laut), dan sun (matahari). Kenapa kita tidak sulap saja padang pasir gersang ini menjadi kawasan yang megah dan mewah? Kita bisa tawarkan sebuah lifestyle eksklusif yang berbeda yang hanya tersedia di padang pasir ini."

Kisah itu beredar luas. Mungkin cuma mitos. Tapi narasi ini punya konteks yang valid: sosok Sheikh Mohammed memang seorang pemimpin yang visioner dengan ketrampilan wirausaha yang mumpuni. Ia meyakini ungkapan: "Nothing is impossible! Because impossible is nothing". Air laut disalinasi. Padang pasir disulap menjadi kota yang indah, gemerlap dan super modern.

Tidak sampai dua dekade, kawasan di Jumeirah dan sepanjang pantai selatan Teluk Persia pun telah berubah menjadi bangunan-bangunan megah, mewah, gemerlap serta modern. Palm Jumeirah adalah tempat hunian dan hotel-hotel super mewah yang dibangun di atas pulau buatan. Menyerupai pohon palm jika dilihat dari udara.

Di dekatnya dibangun Burj al-Arab, sebuah bangunan tertinggi di dunia, mencapai 321 meter dengan 66 lantai, yang seluruhnya difungsikan sebagai hotel. Sama dengan Palm Jumeirah, hotel ini juga dibangun di atas pulau buatan, menjorok 280 meter di lepas pantai. Diklaim sebagai yang termewah sejagad. Mereka menyebutnya hotel berbintang tujuh. Dan kalaupun ada hotel mewah lainnya di negara-negara lain di dunia, menurutnya itu hanya berbintang enam.

Tentu masih banyak bangunan megah lainnya yang tak akan cukup dilukiskan keindahannya dalam kolom ini. Kota otonom bagian dari UEA berpenduduk 2,2 juta jiwa ini langsung menohok perhatian dunia. Tak lagi karena minyaknya, sebab minyak menurut The Richest ternyata hanya menyumbang tujuh persen dari total pendapatan kota Dubai yang mencapai US$100 miliar itu.

Sebagian besar pendapatan Dubai justru datang dari industri pariwsata yang mencakup real estate hingga penerbangannya.

Toh pencapaian Dubai yang sudah serba luas, tinggi, mewah, megah, dan serba besar ini hingga membuat ternganga warga dunia ini, oleh Sheikh masih dianggap belum seberapa. Dengan santainya, ia menjawab kekaguman para wartawan dengan mengatakan:"What I have achieved for Dubai is only 10% of my vision for it." Sungguh sulit untuk membayangkan bagaimana wahnya kota ini nanti jika 90 persen visi yang tersisa itu menjadi kenyataan!

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved