Salam Tribun
Transformasi Dubai
Pagi, November 2000. Jelang musim dingin hawa terasa menyejukkan, setelah 8 bulan negeri gurun pasir itu didera udara panas yang menggerahkan badan.
Baca: Terlena di Zona Nyaman
Membandingkan Dubai dengan Kaltim, apalagi Samarinda mungkin seperti bumi dan langit. Dalam skala dan kondisi tertentu, sebenarnya masih relevan. Kaltim kaya sumberdaya alam. Pernah alami booming kayu selama tiga dasawarsa. Kini batu baranya dikeruk. Kaltim juga kaya migas. Tapi apa yang kini tersisa?
Para pejabatnya selalu berbicara mengenai pentingnya membangun pariwisata. Mereka bicara soal tekad untuk tidak lagi terlalu tergantung pada galian tambang dan migas. Kalaupun masih bertumpu pada dua komoditi itu sekedar untuk menjadikannya sebagai energi dalam melakukan transformasi ekonomi Kaltim.
Tetapi, sekedar membangun Tepian Mahakam saja sebagai ikon wisata yang berada di depan mata masih kedodoran. Ada investor ingin membangun wahana bermain keluarga Trans Studio -- yang itu sebenarnya dapat menjadi stimulan bagi terbangunnya industri pariwisata di Samarinda -- rumitnya minta ampun.
Lalu haruskah kita, untuk kesekian kali, kita perlu melalukan studi banding lagi ke Singapura, Thailand, Eropa, Amerika, Turki, dan Dubai agar mata serta wawasan kita lebih terbuka? Entahlah! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/achmad-bintoro_salam_20161003_221231.jpg)