Senin, 13 April 2026

Celoteh Cak Bay

Oknum, Pemain dan Sapi Perah

Si pemain curhat mengenai kondisi klub-klub sepakbola profesional Indonesia mengalami kemunduran setelah dicabutnya anggaran untuk klub dari APBD.

Ahmad Bayasut 

Oleh: Ahmad Bayasut @ahmadbayasut

Saat saya sedang asyik memotret dari pinggir lapangan aksi pemain sepakbola berlatih. Kemudian terdengar sayup suara memanggil.

“Hai mas, apa kabar,” ujar penjaga gawang salah satu klub Indonesia Super League (ISL) menyapa saya kala itu.

Sapaan itu saya balas dan berbincang banyak. Disisi lain untuk bahan berita saya dan lainnya. Setelah panjang lebar berbincang. Si pemain yang juga pernah berseragam Timnas dan malang melintang pindah klub itu malah curhat mengenai kondisi sepakbola Indonesia.

Dalam hati saya, pasti ini membicarakan mengenai hal-hal yang kurang mengenakkan. Dan tebakan saya ternyata benar. Si pemain curhat mengenai kondisi klub-klub sepakbola profesional Indonesia mengalami kemunduran setelah dicabutnya anggaran untuk klub dari APBD. (baca juga: Kampanyemu Harimaumu, Medsos dan Pembualan )

Tetapi si pemain memiliki opini bahwa hal itu sudah benar. Agar klub profesional harus mampu menjalankan roda bisnis agar tetap eksis.

Sambil memantul-mantulkan bola yang ia pegang. Si penjaga gawang ini kemudian menawari saya. Tawarannya adalah saya diminta untuk mencarikan klub buat dia. Klub yang sehat finansial, klub yang tidak telat bayar gaji walau dirinya nanti duduk di bangku cadangan. Dalam benaknya agar dapur di rumah tetap mengebul dan menyekolahkan anak-anaknya.

Dan ia memberikan nomor telepon seluler kepada saya dengan harapan saya nanti menghubunginya. Tawaran itu hanya saya iyakan walau hingga kini hal itu tak pernah terwujud. Karena saya ingin fokus pada pekerjaan dan menulis berita seperti sekarang. Bukan menjadi agen pemain sepakbola. Maaf ya bro! (baca juga: Setan Bola Atau Sepak Bola )

Sebelumnya pada tahun 2010 juga ada curhatan pemain profesional mengenai hal sama tapi beda situasi. Pemain ini curhat mengenai tekanan dan kebingungannya mengenai kontrak pemain di penghujung musim kompetisi.

Karena sejatinya, klub-klub Indonesia hanya mengajukan setahun kontrak sesuai dengan musim kompetisi. Bila semusim bermain apik maka kontrak lanjut. Bila bermain buruk maka pemain silakan angkat koper. Resiko!

Nah mengenai tekanan yang dimaksud adalah bagaimana nasibnya kelak bila kontraknya diputus. Ia harus malang melintang kesana kemari mencari klub. Bila lolos seleksi maka surat kontrak segera ditandatangani. Tetapi bila tidak lolos seleksi maka harus melalang buana mencari klub yang mau mengontraknya. Tekanannya kepulan asap dapur makin menipis bila begini.

Untuk kebingungan, nah ini seperti buah simalakama buat pemain. Bingung dalam artian bahwa pemain ini sebelum pindah klub biasanya menjadi sasaran empuk bagi oknum. Katakanlah oknum ini adalah “orang dalam” klub.

Oknum ini akan mengajukan tawaran ilegal. Tawarannya adalah si oknum berusaha untuk membujuk pelatih, manajemen klub hingga pemilik klub agar si pemain tetap dipertahankan. Biasanya oknum-oknum ini mencari pemain-pemain kepepet (terdesak). Sehingga pemain ini seolah memberikan segala hak nilai tawarnya kepada si oknum ini.

Tentu usaha oknum ini tidak gratis lho. Pemain yang curhat kepada saya ini mengatakan dirinya ditawari untuk bertahan bersama klub dengan sedikit menaikkan harga kontraknya atau tetap.

Dengan catatan ada fee tanpa hitam diatas putih. Contoh, bila pemain ini memiliki nilai kontrak Rp 350 juta semusim. Si pemain akan diminta menyetor ke oknum ini sebesar Rp 50 juta. Sebagai jasa mempengaruhi pelatih, manajemen dan pemilik klub tadi. Ini artinya si oknum berusaha “mengosok-gosok” pemegang keputusan kontrak pemain agar pemain incarannya menandatangani kontrak. (baca juga: Merdeka Ataoe Mafia (Mati) )

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved