TribunKaltim/

Dampak Jalan Putus di Apo Kayan, Bilung Ajang Harus Menginap Dua Hari

Jalan terputus memaksa saya dan keluarga harus menginap selama dua hari dalam perjalanan. Total waktu perjalanan saya itu, sekitar 5 hari

Dampak Jalan Putus di Apo Kayan, Bilung Ajang Harus Menginap Dua Hari
TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFAN
Ilustrasi: Jalan putus di ruas jalan poros Bulungan-Berau yang menghubungkan Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - BEKERJA sebagai seorang guru dilakoninya sejak kurang lebih 34 tahun lalu. Tempat ia lahir di Long Nawang, Kecamatan Kayan Hulu sekaligus satu daerah perbatasan Indonesia-Malaysia. Di daerah itulah ia mengabdikan diri seumur hidupnya hingga saat ini, beberapa tahun lagi pria bernama asli Bilung Ajang ini akan pensiun. Di akhir masa pengabdiannya, Bilung Ajang harus berjibaku dengan berbagai penyakit yang dideritanya.

TAHUN 2003 lalu, merupakan awal Bilung mengalami penurunan kondisi kesehatan. Tidak kunjung sembuh dengan penyakit lambung, malaria dan tipes, Bilung terus bertahan dengan kondisinya dengan cara berobat jalan. Kegiatan mengajar yang merupakan kewajibannya pun terus digelutinya meski penyakit terus menyerang.

Awal tahun 2017 lalu, merupakan sebuah kenangan buruk baginya untuk berusaha menyembuhkan penyakit yang kurang lebih 10 tahun menyiksa. Jalan Apo Kayan terputus karena longsor. Hingga saat ini, belum ada upaya pemerintah untuk membuka jalan longsor. Dapat dikatakan, Apo Kayan sekarang terisolir. Ini juga membuat Bilung Ajang semakin menderita.

"Jalan terputus yang terjadi saat ini, memaksa saya dan keluarga harus menginap selama dua hari dalam perjalanan mau berobat. Total waktu perjalanan saya itu, sekitar 5 hari perjalanan. Jalan putus di mana-mana di Apo Kayan. Saya mau seperti apa. Awalnya saya sudah cukup sehat setelah menjalani pengobatan di Malaysia, sampai di Indonesia saya sakit lagi karena perjalanan yang jauh itu," ujar Bilung saat ditemui Tribun di Kantor DPRD Malinau, kemarin.

Kunjungan Bilung Ajang ke DPRD Malinau bukan tanpa alasan. Seorang diri, ia mencoba bertemu dengan beberapa anggota DPRD asal Apo Kayan untuk meminta bantuan agar bisa melanjutkan pengobatan ke Samarinda. Sebab, setelah pulang dari Malaysia dan menginap di perjalanan selama dua hari membuat penyakitnya kumat lagi.

"Ada penerbangan seminggu sekali. Kemudian, penerbangan itu harus mengantre. Pas dapat jadwal saya berangkat, berangkatlah saya. Rencana mau berobat di Malinau dulu. Tapi kalau memang bisa dirujuk, ya saya mintanya dirujuk ke Samarinda saja. Jadi, maksud saya ke DPRD ini ingin berkeluh kesah tentang kondisi kita di Apo Kayang," ujar suami dari Uai Jan ini.

"Kalau dulu, saat jalan sudah tembus antara Apo Kayan dengan Mahulu, saya bisa ikut ke Samarinda bersama menggunakan jalur darat. Kemudian, bisa juga saya terbang ke Samarinda menuju Bandara Long Ampung, Kayan Selatan. Tapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Makanya, waktu itu saya memilih ke Malaysia untuk berobat," lanjut ayah tiga anak ini.

Mengatasnamakan masyarakat perbatasan dan pedalaman di Apo Kayan, Bilung meminta kepada pemerintah, agar memperhatikan kondisi saat ini di Apo Kayan. Kehidupan semakin sulit, akibat jalan terputus antar kecamatan dan provinsi. Semua kebutuhan pokok di Apo Kayan semakin menipis. Harga-harganya pun semakin mahal.

"Terlebih bagi kami yang sakit seperti ini. Kalau memang di Long Nawang tidak ada obatnya, kalau jalan tembus seperti awal tahun 2014 lalu kita bisa ke Kayan Selatan atau Sei Boh. Tapi, sekarang kita tidak bisa ke sana. Kita hanya bisa ke Malaysia. Meskipun jalan di sana tidak putus, tapi kita harus melalui jalan yang sulit dan sangat jauh. Lebih-lebih kalau jalan sedang rusak," keluhnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help