TribunKaltim/

Wow, Belum Ada di Indonesia, Data Uji Sensor Jembatan Mahkota II Dikalibrasi di Amerika

Selanjutnya, pihak dari Amerika pula yang akan menerbitkan sertifikat laik fungsi untuk 12 sensor yang terpasang di Jembatan Mahkota II.

Wow, Belum Ada di Indonesia, Data Uji Sensor Jembatan Mahkota II Dikalibrasi di Amerika
IST
Begini rupa Jembatan Mahkota II jika nantinya selesai dipasang lampu art thematic 

SAMARINDA, TRIBUN - Beberapa hari lalu, 12 sensor dipasang pada kabel Jembatan Mahkota II. Selanjutnya, dilakukan pengecekan berfungsi tidaknya sensor tersebut dengan cara memberikan beban ke jembatan menggunakan dua unit truk yang terisi penuh.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jembatan Mahkota II, Rosnayadi Novida mengatakan, data tegangan kabel saat uji sensor tersebut kini dibawa ke Amerika. Data tersebut akan dikalibrasi dengan pengaruh suhu terhadap tegangan kabel. Selanjutnya, pihak dari Amerika pula yang akan menerbitkan sertifikat laik fungsi untuk 12 sensor yang terpasang di Jembatan Mahkota II.

"Karena memang di Indonesia belum ada yang bisa menerbitkan sertifikat hasil uji sensor tersebut. Makanya, data dikalibrasi di Amerika dan nanti mereka juga yang akan menerbitkan sertifikat untuk sensor tersebut," kata Rosnayadi, Rabu (18/10), usai mendampingi Walikota Samarinda, Syaharie Jaang, meninjau progres pemasangan aksesori di Jembatan Mahkota II.

Baca: Kecanggihan Jembatan Mahkota II: Mulai Lampu dari Polandia Hingga Sensor dari Amerika

Baca: Ini 3 Proyek di Jembatan Mahkota II yang Harus Tuntas di Akhir Tahun

Sekadar informasi, berdasarkan rekomendasi dari Komisi Keselamatan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ), sensor yang terpasang di Jembatan Mahkota II berjenis Elasto Magnetic (EM). Sensor jenis ini diklaim memiliki tingat akurasi lebih baik dibandingkan jenis lainnya.

Sensor EM tersebut diproduksi di Amerika dan dipasang langsumg oleh penemu alat EM Sensor Paul Sumitro MBA, PhD, PE dari Smartsensys USA. "Jadi bukan sekadar kalibrasi, tapi langsung disertifikasi," kata Rosnayadi.

Saat uji sensor dengan beban dua unit dump truk terisi penuh, kata Rosnayadi, sensor menunjukkan tegangan kabel berada diangka 45 persen. Jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan KKJTJ yakni 55 persen.

"Jadi, jika jembatan menerima beban, sensor akan memberikan peringatan berupa warna. Hijau, artinya masih aman. Kuning, siap-siap, dan merah sudah masuk waspada," kata Rosnayadi.

Data berupa isyarat lampu tersebut bisa dipantau oleh pihak-pihak tertentu setiap saat. Yakni oleh Pemkot Samarinda, Dinas PUPR, hingga KKJTJ di Jakarta. "Ada modem dipasang di pucuk pylon jembatan. Modem ini menerima data dari sensor dan meneruskan data tersebut ke pihak-pihak yang terkait dengan jembatan ini," ungkap Rosnayadi.

Sejatinya, kata Rosnayadi, setiap kabel yang menopang struktur Jembatan sepanjang 1,4 km tersebut, harus dipasang sensor. "Tapi, karena keterbatasan anggaran, kita pasang 12 dulu yang prioritas. Dan KKJTJ menyetujui rencana kita," kata Rosnayadi, lantas menyebut jumlah kabel yang menopang Jembatan Mahkota II ada ratusan.

Selain mengusulkan penambahan sensor, Rosnayadi juga mengusulkan pemasangan CCTV di Jembatan yang akan dinamakan H Achmad Amins, ini. Diketahui, dana yang dikeluarkan Pemkot untuk membeli 12 sensor tersebut mencapai Rp 3,5 miliar. "Kalau tahun depan ada dana, akan kita usulkan lagi," tutur Rosnayadi. (rad)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Adhinata Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help