Heboh Sengkarut Paradise Papers, Dapatkah Suaka Pajak Dijinakkan?
Keliru juga berpandangan bahwa jika tiada OFC maka pemerintahan setempat tidak akan mencabut hambatan dalam tarif pajak.
TRIBUNKALTIM.CO - Industri pengelolaan uang di kawasan suaka pajak memutarkan dana sebesar triliunan dollar yang jauh dari jangkauan petugas pajak.
Upaya untuk menundukkannya agar sesuai aturan negara sama seperti menjinakkan kucing Cheshire.
Karakter dalam cerita Alice in Wonderland itu antara ada dan tiada, sukar ditemui, dan muncul hanya ketika dia mau.
Tiada yang sepakat dengan istilah suaka pajak. Bahkan namanya pun diperdebatkan. Ada yang menyebutnya suaka pajak, lainnya lebih suka dengan istilah "pusat keuangan lepas pantai".
Jumlahnya tidak bisa dipastikan dan begitu pula berapa banyak uang yang disimpan. Tidak ada statistik yang benar-benar akurat untuk menjelaskan.
Hal-hal seperti ini justru disukai mereka yang berkecimpung di sana, mulai dari pemilik kekayaan, pengacara, akuntan makelar yang mengelola uang, hingga pemerintahan tempat suaka pajak berada. Kata kunci bagi industri ini adalah privasi atau kerahasiaan.
Sebuah adagium yang kerap dikutip oleh penulis dan pakar perpajakan, Nicholas Shaxson, menyimpulkan operasional kawasan suaka pajak. "Mereka yang tahu tidak bicara. Dan mereka yang bicara tidak tahu."
Namun, benarkah publik tidak tahu berapa banyak dana yang disimpan di kawasan suaka pajak?
Sebuah laporan yang dirilis September ini oleh, antara lain, ekonom Gabriel Zucman, memperkirakan sekitar 10% Produk Domestik Bruto disimpan di kawasan suaka pajak. Jumlahnya diperkirakan mencapai US$7,8 triliun. Lembaga Boston Consulting Group memperkirakan jumlahnya tahun lalu sebesar US$10 triliun.
Jika Anda berpikir, wow, jumlah itu jauh lebih besar dari ekonomi Jepang, Anda benar. Namun, kata wow yang Anda ucapkan bakal lebih lama saat Anda mengetahui jumlahnya boleh jadi mencapai US$36 triliun—sebagaimana diperkirakan James Henry, penulis buku Blood Bankers. Nilai itu dua kali lipat dari ekonomi AS.
Akan tetapi, masalahnya, tiada seorang pun yang tahu pasti.

Wow selanjutnya datang dari perkiraan jumlah uang yang sebenarnya dimiliki kaum superkaya. Ingat slogan "kami adalah 99%" yang dicetuskan gerakan Occupy untuk mengecam 1% populasi dunia yang memiliki kekayaan secara timpang?
Begini, laporan Zucman menyebutkan 80% dari semua dana di kawasan suaka pajak dimiliki 0,1% orang superkaya. Adapun 50%-nya dipunyai 0,01% orang super, super kaya.
Anda mungkin berpikir, "Kalau saya tidak bisa mengalahkan mereka, mengapa tidak bergabung dengan mereka?" Nah, masalahnya, kemungkinannya nyaris nihil Anda bisa bergabung dengan mereka lantaran biaya manajemen untuk orang awam di kawasan suaka pajak mungkin akan lebih besar dari perolehan kekayaan Anda.
"Di strata paling rendah ada kaum kelas menengah yang melakukan sedikit ini dan itu. Namun mayoritasnya, ini adalah permainan untuk orang-orang kaya," kata Nicholas Shaxson kepada BBC Panorama.