Punya Jejaring Sosial Sendiri, Iran Larang Penggunaan Instagram

Pemerintah pun makin gencar mengembangkan jejaring media sosial lokal untuk membatasi ketergantungan terhadap aplikasi buatan asing.

Punya Jejaring Sosial Sendiri, Iran Larang Penggunaan Instagram
nbcnews.com
Ilustrasi - Media sosial Instagram 

TRIBUNKALTIM.CO, TEHERAN - Kementerian Pendidikan Iran pada Minggu (15/4) mengeluarkan larangan penggunaan jaringan media sosial asing di sekolah-sekolah. 

Pelarangan tersebut sebagai upaya pemerintah dalam membatasi pengaruh dari platform online luar. 

"Sekolah-sekolah harus menggunakan jejaring sosial buatan dalam negeri untuk komunikasi mereka," tulis pernyataan kementerian dikutip kantor berita ILNA.  Mengutip AFP, jejaring sosial yang paling banyak digunakan di Iran adalah Telegram, dengan tahun lalu mengklaim memiliki 40 juta pengguna per bulannya di negara Republik Islam itu.

Jejaring sosial populer lainnya adalah Instagram, yang banyak digunakan perusahaan di Iran untuk berinteraksi dengan para penggunanya. 

Sementara untuk Facebook dan Twitter, yang tidak terlalu banyak digunakan warga, telah diblokir oleh pemerintah Iran. Namun masih bisa diakses melalui jaringan privat virtual (VPN).

Otoritas Iran juga sempat melakukan pemblokiran terhadap media sosial Telegram ketika terjadi gelombang protes yang melanda kota-kota di Iran awal tahun ini.  Tindakan pemblokiran dilakukan demi mencegah penggunaan media sosial untuk provokasi dan memicu kerusuhan. 

Pemerintah pun makin gencar mengembangkan jejaring media sosial lokal untuk membatasi ketergantungan terhadap aplikasi buatan asing.

Salah satu platform jejaring sosial buatan lokal Iran yang menawarkan layanan serupa dengan Telegram yakni aplikasi Soroush yang diklaim telah memiliki 5 juta pelanggan. 

Menteri Telekomunikasi Iran, Mohammad Javad Azari Jahromi baru-baru ini menjanjikan jika jejaring sosial Iran akan dapat menjamin kerahasiaan yang tidak kalah dengan platform luar negeri. 

"Tidak ada pesan yang akan dibaca. Tidak ada informasi (pribadi) yang akan dibagikan kepada pihak lain," ujarnya di hadapan parlemen. Janji dari menteri telekomunikasi itu seolah menjawab pernyataan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei yang menuntut kepada pemerintah untuk menjamin keamanan dan privasi orang-orang di internet. 

Khamenei bahkan menyebut akses tanpa izin ke privasi online sebagai hal yang haram dan dilarang dari sudut pandang agama. Sementara media Iran turut mempromosikan penggunaan jejaring sosial buatan dalam negeri dengan meyakinkan bahwa aplikasi lokal akan tetap berfungsi dan bebas dari pemblokiran. (*)

Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help