TPS Kabo Dianggap Terlalu Jauh, DLH Kutim Cari Pembuangan Sementara Alternatif

Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah di kawasan Kampung Tator Jalan Road 9 dan Pasar Induk, telah ditutup

TPS Kabo Dianggap Terlalu Jauh, DLH Kutim Cari Pembuangan Sementara Alternatif
Tribun Kaltim/Margaret Sarita
TPS Kabo yang dikeluhkan terlalu jauh dari wilayah pemukiman warga 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA –  Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah di kawasan Kampung Tator Jalan Road 9 dan Pasar Induk, telah ditutup warga setempat. Karena terlalu dekat dengan pemukiman dan menimbulkan polusi udara bagi masyarakat setempat.

 Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur yang menaungi UPTD Kebersihan merelokasi TPS ke wilayah Kabo, Kecamatan Sangatta Utara. Namun, tempat ini pun dikeluhkan petugas kebersihan yang mengangkut sampah-sampah dari pemukiman warga. Karena dianggap terlalu jauh dari pusat kota.

“Petugas kebersihan yang mengambil sampah dari kawasan pemukiman merasa TPS yang ada sekarang, yakni di kawasan Kabo, terlalu jauh. Apalagi, petugas pengambil sampah hanya menggunakan kendaraan roda tiga. Sehingga kami harus mencari alternatif lain di sekitar kota,” ungkap  Kepada Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Budi Santoso.

Baca: Masih Terlihat dari Arah Pelabuhan, Kapal yang Mengangkut 70 Penumpang Tenggelam

Petugas kebersihan roda tiga, menurut Budi sangat membantu pemerintah dalam memberikan pelayanan pada masyarakat. Selain itu, masyarakat juga sudah membayarkan retribusi sampah pada pemerintah. Sehingga pelayanan harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan.

"Kami harus tambah TPS. Lahan ini yang susah kami cari di dalam kota. Rencananya, mau dibuat di Jalan Guru Besar dan Kanal I. Tapi masih belum. Jadi untuk sementara terpaksa masih ke Kabo, untuk pembuangan sementaranya,” ujar Budi.

Selain jauh, kata Budi, TPS Kabo pun terbilang cukup sempit lahannya. Tak cukup untuk menampung sampah bagi warga Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.  "Sementara ini kami berikan tambahan container atau peti kemas. Sembari menunggu tambahan lahan dan TPS baru," ujar Budi.

Baca: Tak Dukung Kesetaraan Hadiah Uang Petenis Putra dan Putri, Rafael Nadal Diserang di Medsos

Pelayanan kepada masyarakat terus ditingkatkan. UPT diminta kerja ekstra.  Salah satu tuntutannya adalah pengangkutan sampah tepat pada waktunya.  "Warga sudah membayar restribusi.  Untuk itu,  kami wajib memberikan pelayanan. Sampah diangkut tepat waktu," ungkap Budi.

Dari hasil restribusi sampah,  Maret kemarin pihaknya menerima Rp 68 juta perbulan. Jumlah ini terus mengalami kenaikan. Karena pada bulan sebelumnya, Rp 62 juta.  "Uang restribusi sampah langsung  masuk ke kas daerah. Mudahan saja terus meningkat,” kata Budi.(*)

Penulis: Margaret Sarita
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help