Usai Dilantik, Khairul Minta Dukungan Proyek Pemipaan Air Baku dari Bulungan ke Tarakan
Salah satu problem Kota Tarakan yang menjadi perhatian Walikota Tarakan Khairul adalah pemenuhan air bersih kepada semua warga.
Laporan wartawan Tribunkaltim.co, Muhammad Arfan
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR – Salah satu problem Kota Tarakan yang menjadi perhatian Walikota Tarakan Khairul adalah pemenuhan air bersih kepada semua warga.
Tahun 2019 ini, ia bersama Wakilnya Effendhi Djuprianto berkomitmen akan menyiapkan 3.000 sambungan baru air PDAM ke rumah warga.
Selain hal tersebut, sang Walikota mengaku sedang meramu ide agar pasokan air baku di embung-embung di Kota Tarakan tetap tersedia sepanjang tahun, walau di usim kemarau sekalipun.
Keterlibatan Kementerian PUPR dan Pemprov Kalimantan Utara sangat diharapkan Khairul.
• Khairul-Effendhi Djuprianto Resmi Nakhodai Kota Tarakan hingga 2024
“InsyaAllah, program kita, semua yang belum memiliki PDAM akan kita sambungkan. Masalahnya memang di pasokan air baku. Untuk pasokan air baku, kita sedang mengupayakan bersama dengan kementerian terkait dan tentu kita juga berharap dari pemprov di bawah kepemimpinan Pak Gubernur,” kata Khairul menjawab pertanyaan Tribunkaltim.co di gedung gabungan dinas Pemprov Kalimantan Utara, Jumat (3/1/2019) usai dilantik bersama Effendhi Djuprianto.
Dukungan yang dimaksudkan Khairul adalah proyek pemipaan air baku dari Bulungan ke Tarakan.
Sumber air baku di Kota Tarakan terbatas mengingat geografis pintu gerbang Kalimantan Utara itu adalah sebuah pulau.
Sebaliknya, Bulungan yang merupakan kabupaten terdekat Kota Tarakan memiliki sumber daya air baku yang cukup melimpah yang bersumber dari sungai-sungai besar dan kecilnya.
“Kita berharap Pemprov bisa mempercepat realisasi pemipaan dari Bulungan ke Tarakan. Supaya pasokan air bersih kita bisa dijamin dengan baik,” sebutnya.
• Hari Ini Gubernur Kaltara Lantik Khairul-Effendhi jadi Walikota dan Wawali Tarakan
• Tanggal 1 Maret Khairul dan Effendhi Dilantik Menjadi Wali Kota dan Wawali Tarakan
Khairul menambahkan, kapasitas debit air di embung-embung sebetulnya cukup untuk memenuhi kebutuhan warga Tarakan. Namun kondisi alam dan iklim kemarau kerap membuat embung kekeringan.
Untuk penggunaan teknologi penyulingan air laut menjadi air tawar, Khairul mengaku belum bisa diterapkan dalam jangka pendek ini. Mengingat biayanya masih cukup mahal.
“Tetapi tetap nanti beberapa alternatif akan tetap kami coba bikin. Termasuk pengendalian banjir, untuk daerah-daerah yang belum terselesaikan dengan baik tentu akan kita selesaikan secara bertahap,” sebutnya. (*)