Hari Kelima Penyortiran Surat Suara, KPU Kukar Temukan 1.831 Lembar Surat Suara yang Rusak

Hari Kelima Penyortiran Surat Suara, KPU Kukar Temukan 1.831 Lembar Surat Suara yang Rusak

Hari Kelima Penyortiran Surat Suara, KPU Kukar Temukan 1.831 Lembar Surat Suara yang Rusak
TRIBUN KALTIM / RAHMAD TAUFIK
Sebanyak 100 orang tenaga sortir melipat kertas suara di Kantor KPU. Mereka diupah Rp 98 per lembarnya. Pada hari kelima, Selasa (12/3), surat suara yang rusak mencapai 1.831 lembar. 

Hari Kelima Penyortiran Surat Suara, KPU Kukar Temukan 1.831 Lembar Surat Suara yang Rusak

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Proses penyortiran dan pelipatan surat suara sudah memasuki hari kelima, Selasa (12/3/2019). Seratus tenaga sortir dari masyarakat umum dilibatkan dalam proses penyortiran surat suara yang mencapai 2,4 juta lembar di Kantor KPU Kukar.

“Sampai hari kelima pukul 18.00, hasil sortir terdapat surat suara rusak mencapai 1.831 lembar,” kata Solihin, Sekretaris KPU Kukar tadi malam. Proses sortir ditarget selesai pada 20 Maret 2019 mendatang.Para tenaga sortir ini didominasi ibu rumah tangga dan mahasiswa. Penyortir diawasi ketat karena mereka sedang menyortir dokumen negara. Mereka tetap bekerja pada Sabtu dan Minggu.

"Penyortir nggak boleh makan dan minum di ruangan sortir. Waktu istirahat juga sudah ditentukan," ujarnya. Upah tenaga sortir ditetapkan Rp 98 untuk satu lembar kertas suara. "Kabarnya upah sortir ini masih ada perubahan. Upah ini berlaku secara nasional, jadi kita tunggu saja," ucapnya pada Tribun Kaltim.

Badariah (44), warga Gunung Belah Tenggarong, mengaku jadi tenaga sortir baru pertama kali. Sehari-hari ibu dari 3 orang anak ini berprofesi sebagai tukang urut. Ia dan anak keduanya melipat kertas suara di gudang KPU.

Yang narkoba goblok. Grup Musik Rock Edane Ajak Masyarakat Tenggarong Bersih dari Narkoba

"Saya mau kerja melipat kertas suara karena ada upahnya, apalagi saat ini si bungsu yang lagi di pondok pesantren minta uang asrama Rp 300 ribu/bulan, di luar uang makan," kata Badariah. Ia mendapat kabar soal perekrutan tenaga sortir dari staf KPU. Kebetulan staf KPU itu termasuk pelanggan dari jasa urut Badariah.

Sebagai tukang urut, Badariah kerap mendapatkan bayaran dari pelanggannya Rp 100 ribu. Ia juga kerap dipanggil ke rumah atau kantor untuk mengurut pelanggannya. Badariah menerima pekerjaan sebagai tukang sortir kertas suara untuk menambah penghasilan keluarga. Ia siap menanggung risiko lembur karena pekerjaan sortir kertas suara ini berlangsung hingga pukul 22.00.

"Makanya saya bawa bekal nasi bungkus yang tadi dibeli di warung pinggir jalan seharga Rp 10 ribu. Karena kerjanya sampai malam. Tapi kami dapat istirahat siang dan sore hari," ujarnya. Badarian melipat kertas suara bareng anak keduanya yang berusia 24 tahun. "Anak saya ini sudah lulus SMA, saat ini ia masih sibuk cari kerja sana-sini. Daripada bengong di rumah, saya mengajaknya ke sini ikut menyortir," ucap Badariah.

Ditarget Selesai 27 Desember 2018, Proyek Pembangunan Gedung SMPN 1 Tenggarong Molor

Berbeda dengan Badriah, Endang Susilawati dari Rapak Lambur, mengaku sudah kedua kalinya melipat surat suara KPU Kukar. Sebelumnya, ia menyortir kertas suara untuk Pilpres 2014 silam. “Kalau dulu satu kelompok mendapatkan total upah Rp 11 juta dari menyortir surat suara, saya sendiri mendapatkan Rp 2,5 juta. Sedangkan proses pelipatan surat suara yang dulu nggak sampai seminggu,” tuturnya.

Ia berencana upah dari sortir surat suara akan dipakai untuk membeli ponselnya yang rusak. “Saya ingin ganti handphone karena sudah pecah bagian depan,” tuturnya. (*)

SDN 028 Tenggarong Siap Menggelar Ujian Sekolah Berstandar Nasional Berbasis Komputer

Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved