Manager ULP PLN Rayon Tanjung Selor Tepis Tudingan Jual Beli Setrum dengan PT SAS Belum Tuntas

"Kalau ada selentingan bahwa PT SAS sengaja memperlama perbaikan PLTU miliknya agar harga jual listriknya ke PLN dinaikkan, itu tidak benar,".

Manager ULP PLN Rayon Tanjung Selor Tepis Tudingan Jual Beli Setrum dengan PT SAS Belum Tuntas
Tribunkaltim.co/ M.Arfan
PLTU Sekayan milik pihak ketiga, PT Sumber Alam Sekurau di Desa Apung, Tanjung Selor Bulungan, Kalimantan Utara diabadikan beberapa waktu lalu. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Unit Layanan Pelanggan (ULP) PT PLN Rayon Tanjung Selor menepis tudingan miring, bahwasanya pemadaman bergilir di Bulungan disebabkan jual beli listrik antara PT PLN (Persero) dengan pihak ketiga yakni PT Sumber Alam Sekurau (SAS) belum sepakat alias belum deal, hingga menyebabkan kurangnya daya PLN ke masyarakat.

Manager ULP PT PLN Rayon Tanjung Selor Adiyoso mengatakan, informasi dari PT PLN Wilayah Kalimantan Timur dan Utara, persiapan kontrak jual beli listrik dengan PT SAS tidak ada masalah.

Justru PT PLN dan PT SAS sudah mencapai kesepakatan harga.

"Kalau ada selentingan bahwa PT SAS sengaja memperlama perbaikan PLTU miliknya agar harga jual listriknya ke PLN dinaikkan, itu tidak benar," kata Adiyoso, Selasa (26/3/2019) kepada Tribunkaltim.co di Kedai 99 Tanjung Selor usai menjadi narasumber 'Respons Kaltara' bersama Kepala Dinas ESDM Kalimantan Utara Ferdy Manurun.

Adiyoso, Manager ULP PLN Rayon Tanjung Selor.
Adiyoso, Manager ULP PLN Rayon Tanjung Selor. (Tribunkaltim.co/ M.Arfan)

KTL Masih Jadi Polemik, DPRD Minta Dishub Balikpapan Segera Evaluasi dan Kaji Aturannya

Jelang Pemilu 2019, Polda Kaltim Tolak Dikatakan Hentikan Penyidikan Korupsi, Begini Penjelasannya

Berlaku Mulai 1 Mei 2019, Ini Tarif Baru Ojek Online di Tiga Zona

Berdasarkan catatan Tribunkaltim.co, tahun lalu, pada tahun 2016 PT PLN (Persero) membeli listrik dari PT SAS seharga Rp 825,8 rupiah. Adiyoso mengatakan, harga beli listrik dari pihak ketiga tetap mengacu pada salah satu Keputusan Menteri ESDM perihal standar harga.

"Untuk excess power yang pakai batu bara harganya sekian, yang pakai gas sekian. Itu sudah diatur dalam Kepmen. Ada patokannya. Dan kesepakatan antara PT PLN dan PT SAS tidak lari dari Kepmen itu," ujarnya.

Sejak 17 Februari aliran listrik dari PLTU milik PT SAS tidak teraliri ke dalam jaringan PLN disebabkan adanya pemeliharaan rutin tiap awal tahun. Beberapa kali perbaikan, sampai saat ini PLTU masih overhaul pada boiler.

"Awalnya tanggal 24 Maret sudah normal, tetapi begitu dicoba, ternyata masih ada kerusakan," ujarnya.

Bawaslu Bontang Tertibkan Alat Peraga Ilegal hingga ke Rumah Ibadah

Rindu Anak Istri Tak Punya Uang ke Jawa dan Nekat Rampok di Balikpapan, Eko Diancam Pasal Berlapis

Beban puncak di Tanjung Selor mencapai 12 Mega Watt. Sedang PLTD Sei Buaya sebagai satu-satunya pembangkit milik PT PLN di Tanjung Selor hanya mampu memproduksi listrik sekitar 8,6 Mega Watt.

"Akhirnya ketika PLTU DAS shutdown karena overhaul kita kehilangan daya 4 sampai 5 Mega Watt dari SAS. Pembangkit yang bisa kita andalkan di PLTD adalah 8,6 Mega Watt. Sehingga ada pemadaman 3,5 sampai 3,7 Mega Watt pada beban puncak malam hari," ujarnya. (*) 

Penulis: Muhammad Arfan
Editor: Anjas Pratama
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved