Jumat, 10 April 2026

Celoteh Cak Bay

Nasib si Madun

Sama seperti kisah si Madun yang sehari-harinya berlatih dan bertanding sepakbola agar cita-citanya terwujud sebagai pesepakbola professional.

Ahmad Bayasut 

Ahmad Bayasut, @ahmadbayasut

Anak saya menyukai sinetron serial Tendangan si Madun yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi nasional.

Adegan paling disukai anak saya adalah ketika Madun cs bertanding dengan saingannya. Ada teknik, strategi dan jurus-jurus silat sebagai bumbu penyedap jalannya cerita.

Jalan cerita sinetron ini seperti mencerminkan kondisi kehidupan keluarga atau perkampungan di Indonesia. Anak-anak ingin bermain sepakbola dimana dan kapan saja.

Entah di gang, kampung atau lapangan berdebu seakan tidak dipedulikan. Tujuannya adalah mereka ingin menyepak bola. Permainan sepkabola memang sangat familiar di dunia. Pentas sepakbola dunia sudah begitu melekat dalm kehidupan sehari-hari kita.

Sama seperti kisah si Madun yang sehari-harinya berlatih dan bertanding sepakbola agar cita-citanya terwujud sebagai pesepakbola professional.

Melihat kisah ini, tentu sangat berbeda dengan kondisi sepakbola Indonesia. Semangat untuk memajukan olahraga populer ini seolah meredup.

Puncaknya, tahun 2015 merupakan kisah kelam sepakbola Indonesia. PSSI dibekukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) ditambah lagi dengan sanksi diberikan FIFA. PSSI babak belur!

Kini sudah memasuki tahun baru. Sudah seharusnya PSSI dan Kemenpora gencatan senjata. Tidak ada lagi ego satu sama lain merasa benar. Keduanya harus memikirkan jalan keluar agar sepakbola Indonesia bergairah.

Serta menunjukkan keseriusan kepada FIFA bahwa sepkabola Indonesia kini sudah berjalan dengan baik. Pesepakbola tidak lagi menganggur atau mencari pekerjaan lain seperti diungkapkan dalam salah satu iklan di televisi.

Saya sempat senang ketika mengetahui PT Liga Indonesia mempunyai formula baru penyelenggaran kompetisi dengan Betha Project.

Formula baru ini seperti nol toleransi, transparan, modernisasi, kualitas klub, finansial klub (bisnis) sehat, manajemen event, dan lain-lain.

Salah satunya adalah transparansi klub mengenai kontrak pemain, kemudian verifikasi, pendaftaran pemain serta administrasi lainnya dilakukan secara online.

Ini pertanda ada niatan baik memperbaiki kompetisi sepakbola dibanding sebelumnya. Sayangnya, beberapa hari setelah kabar menggembirakan itu. Muncul kabar dari Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) menolak memberi rekomendasi kepada PT Liga Indonesia untuk menggelar kompetisi Indonesia Super League 2016. Alasannya sanksi PSSI dari Kemenpora belum dicabut.

Hanya perkara belum dicabutnya sanksi ini membuat pecinta sepakbola menyaksikan kompetisi kembali terkubur. Ditambah lagi nasib pemain, pelatih, staf tim kembali tidak menentu.

Tawaran Kemenpora dengan memberi syarat kepada PSSI bila sanksi dicabut sudah disanggupi oleh Presiden PSSI La Nyalla Mahmud Mattalitti. "Saya sangat setuju dengan persyaratan tersebut. Saya ini sedang istiqomah menegakkan statuta dan aturan yang jelas. Tidak ada yang lain. Bagi saya, selama itu tidak melanggar statuta PSSI, kami siap dengan tegas melakukan itu. Saya selalu siap jika itu benar,” ujar La Nyalla (tribunnews.com, 3 Januari 2016).

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved