OPINI
Kemewahan, Kekuasaan, dan Sensitivitas Sosial
Di era media sosial, pengalaman telah berubah menjadi pernyataan sosial. Liburan tidak sekadar jeda dari rutinitas, tetapi juga simbol identitas.
Oleh: Syahrul Karim, Dosen Jurusan Pariwisata Poltekba University
TRIBUNKALTIM.CO - Di era media sosial, pengalaman telah berubah menjadi pernyataan sosial. Liburan tidak lagi sekadar jeda dari rutinitas, tetapi juga simbol identitas.
Foto dari resort mewah, makan malam di restoran fine dining, hingga ayunan stik golf di lapangan hijau bukan lagi sekadar dokumentasi pribadi. Ia menjadi pesan tentang status dan akses.
Maknanya menjadi lebih luas ketika pengalaman itu dipamerkan oleh figur publik pejabat yang digaji dan diberi mandat oleh rakyat.
Fenomena konsumsi pengalaman ini menarik untuk ditelaah dalam konteks pariwisata Indonesia yang tengah berkembang, sekaligus dalam lanskap sosial yang masih dibayangi ketimpangan ekonomi.
Gairah konsumsi ini sebenarnya berakar pada pemulihan ekonomi yang impresif. Salah satunya sektor pariwisata.
Pariwisata Indonesia menunjukkan tren pemulihan pascapandemi.
Baca juga: Disporapar Paser Dorong Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Melalui Car Free Night
Data BPS tmenunjukkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) hingga akhir tahun 2025 mencapai lebih dari 15,39 juta kunjungan meningkat 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan didominasi oleh wisatawan dari Malaysia, Australia, dan Tiongkok.
Capaian sama juga ditorehkan pergerakan kunjungan wisatawan domestik mencapai 1,2 milliar perjalanan meningkat 17,55 persen dari tahun 2024.
Angka ini mengindikasikan bahwa pariwisata kembali menjadi penopang penting ekonomi nasional setelah dua tahun terpuruk akibat pandemi.
Selain itu, kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga menunjukkan pengaruh yang signifikan.
Pada kuartal III 2025, pariwisata berkontribusi sekitar 3,96 persen terhadap PDB nasional.
Potensi kunjungan asing yang terus meningkat dan kontribusi terhadap PDB membuka peluang besar bagi industri yang melibatkan jutaan tenaga kerja, dari hotel, restoran, hingga sektor transportasi dan UMKM lokal.
Namun, di balik geliat ini, perlu digaris bawahi bahwa kemajuan ekonomi makro tidak serta merta mencerminkan pemerataan kesejahteraan di masyarakat.
Di balik gemerlap angka kunjungan wisman dan wisnus, ada kenyataan pahit yang terekam dalam angka Rasio Gini kita.
| Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah |
|
|---|
| Memahami Modus Operandi Begal via Teori Pilihan Rasional dan Aktivitas Rutin |
|
|---|
| Membaca Pikiran Anderiy Syachrum: Kejutan Gerbong Baru, Kabinet Ramping, dan Formula Menuju PON 2028 |
|
|---|
| Benalu di Balik Jubah Suci |
|
|---|
| Koperasi Merah Putih: Jangan Terjebak pada Gedung, Bangunlah Ekosistemnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Syahrul-Poltekba.jpg)