Senin, 13 April 2026

Celoteh Cak Bay

Laskar Damkar, Jomblo dan Honor

Belum lagi para laskar damkar ini mendapat cacian dari korban kebakaran karena dinilai lamban.

Ahmad Bayasut 

Oleh: Ahmad Bayasut @ahmadbayasut

Raungan sirine mobil pemadam kebakaran terdengar ketika saya bekerja. Beberapa rekan saya langsung saja mengambil kamera menuju lokasi tempat kejadian perkara di jalan Soekarno Hatta km 1, Selasa (19/1/2016). Informasi saya terima terdapat 5 rumah warga terbakar. Saat itu sekitar pukul 21.00. wita.

Menjelang pergantian hari, saya iseng membaca beberapa berita kebakaran yang ditulis oleh rekan saya. Bukan mengenai korban atau kondisi terakhir pascakebakaran. Tetapi rekan saya menulis kisah salah satu petugas pemadam kebakaran. Laskar Damkar bernama Bayu ini berbicara tentang kesejahteraan. (baca juga: Oknum, Pemain dan Sapi Perah )

Kalimat pertama yang terucap adalah “Kesejahteraan pemadam kebakaran harus lebih diperhatikan,” katanya kepada rekan yang meliput kebakaran tadi. Apa yang disampaikan memang mencengangkan. Bayu yang sudah bergelut pada dunia penuh bahaya ini ternyata menerima honor Rp 1,5 juta/bulan. Itu belum dipotong Jamsostek, sehingga total jenderal diterimanya adalah Rp 1,3 juta. Hah, hari gini ternyata masih ada gaji ‘segitu’.

Gaji yang masih jauh dengan upah minimum kota (UMK) Balikpapan sebesar Rp 2.219.000. Sekarang pertanyaannya apakah honor petugas PMK tadi bila dhitung sudah cukup memenuhi kebutuhan bagi seorang jomblo? Mari kita berhitung.

Katakan seorang jomblo menerima uang Rp 1,3 juta. Kebutuhan makan, hitung saja paling minim Rp 60 ribu/hari. Maka 30 hari dikalikan Rp 60 ribu adalah Rp 1,8 juta. Wow, ini kebutuhan makan sehari-hari seorang jomblo dengan perhitungan paling rendah saja sudah Rp 1,8 juta. Belum lagi kebutuhan lain seperti isi bensin, mau cari pacar atau biaya nongki-nongki (nongkrong). (baca juga: Lubang Membawa Sengsara )

Kembali lagi pada Bayu, bisa jadi laskar Damkar satu ini tidak hanya mengandalkan pendapatan dari profesi mulianya ini saja. Apalagi bila ia sudah berkeluarga tentu urusan dapur mengepul dan membiayai anaknya tidak cukup seperti biaya seorang jomblo tadi. Perlu kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Berita rekan tadi juga terungkap bahwa Bayu sudah 10 tahun mengabdi sebagai petugas penjinak api. Janji-janji manis akan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) hanya isapan jempol. Jangankan menjadi PNS, bonus ketika ada kejadian kebakaran ketika jaga shift saja juga masih belum ia terima. Sungguh memilukan nasib Bayu. Pekerjaan penuh tantangan karena nyawa taruhannya.

Saat shift, jantung pasti berdegup setiap detik karena mereka harus siaga bila ada bencana. Belum lagi para laskar damkar ini mendapat cacian dari korban kebakaran karena dinilai lamban. Padahal bila kita mau membuka mata, kecepatan dan kesigapan mereka sudah terlatih.

Tentu yang menghambat adalah orang-orang yang ikut mendatangi lokasi kejadian kebakaran sehingga membuat kemacetan atau menganggu kinerja mereka. (baca juga: Nasib si Madun )

Kondisi ini berbeda dengan petugas damkar yang ada di negara maju. Menjadi petugas damkar harus professional, tidak ada lagi pekerjaan lain atau nyambi untuk menambah pendapatan dari luar. Mereka bertugas penuh dan fokus. Kesejahteraan mereka bukan lagi menjadi hambatan, ada standar mengenai fasilitas dan kesejahteraannya.

Sudah seharusnya pemerintah memperhatikan hal ini. Mulai dari pusat dan daerah. Dimana ada standar mengenai petugas damkar. Bagi siapa saja yang ingin mengabdi sebagai laskar damkar harus menjalani seleksi ketat. Secara fisik dan psikis harus tahan banting. Kemudian urusan kepegawaian tidak ada lagi honorer atau pegawai kontrak.

Kisah Bayu adalah cerminan buruknya kesejahteraan bagi laskar damkar di luar PNS. Mereka sama saja bekerja mempertaruhkan nyawa, mereka berjibaku menaklukan api. Mereka juga harus meninggalkan keluarga demi melayani masyarakat.

Mereka adalah pahlawan keluarga dan masyarakat. Pemerintah Kota Balikpapan sudah semestinya memperhatikan jerih payah para petugas damkar.

Jangan terus-terusan memberi janji manis akan mengangkatnya sebagai PNS. Tapi beraksilah seperti aksi mereka penuh perjuangan memadamkan api. Motto mereka pantang pulang sebelum api padam. Maka Pemerintah kota Balikpapan juga harus berani mengatakan pantang beri janji manis sebelum laskar damkar tersenyum manis (PNS). (*)

dan Klik Saja Follow @tribunkaltim serta Tonton Video Youtube TribunKaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved