Tribunners / Citizen Journalism

Citizen Journalism

Orangutan Terancam Punah

Kelangsungan hidup mereka - di Kalimantan dan Sumatera - saat ini sangat tergantung kepada para pemangku kepentingan "terdekat".

Editor: Adhinata Kusuma


Sebuah Catatan Akhir Tahun 2011

Oleh: Niel Makinuddin
*Pemerhati Sosial dan Lingkungan Hidup Kaltim

Orangutan adalah salah satu jenis kera besar (greap ape) yang masih tersisa di muka bumi dan saat ini masih bertahan hidup di Indonesia, khususnya di dua pulau besar yakni Kalimantan dan Sumatera. Sejarah mencatat bahwa ribuan tahun lalu orangutan memang pernah menghuni daratan Asia Tenggara, termasuk Pulau Jawa.

Kelangsungan hidup mereka - di Kalimantan dan Sumatera - saat ini sangat tergantung kepada para pemangku kepentingan "terdekat". Yakni terdekat karena kepentingannya (faktor politis ekonomis) dan terdekat lokasi geografisnya (aspek sosial budaya).

Pemerintah dan investor adalah pemangku terdekat karena kepentingan, terutama kepentingan terhadap lahan usaha yang merupakan habitat orangutan. Sedangkan, masyarakat dan karyawan perusahaan adalah merupakan pemangku kepentingan terdekat secara fisik dan karena posisi geografis.

Kawasan Sumatera dihuni oleh orangutan dari jenis Pongo Pygmaeus Abelli, sedangkan Pongo Pygmaeus Pygmaeus lebih banyak mendiami kawasan Kalimantan Barat dan sebagian Negara bagian Serawak di Malaysia. Sedang Kalimantan Tengah paling banyak dihuni oleh jenis Pongo Pygmaeus Wurmbii.

Untuk Kalimantan Timur dan sebagian di Sabah lebih banyak dijumpai jenis Pongo Pygmaeus Morio yang memiliki postur tubuh lebih kecil dan warna lebih gelap.  Orangutan Kalimantan sebagian besar -70% atau lebih - menghuni wilayah yang sangat rawan dan konflik tinggi karena merupakan wilayah ektraksi dan konversi hutan alam.

Sedangkan, kurang dari 30% habitat orangutan berada di dalam kawasan konservasi (Taman Nasional, hutan lindung, dan kawasan konservasi lainnya). Jenis Morio menghuni di sebagian besar dataran rendah (lowland dipterocarp forest) yang tersebar utamanya di landscape Kutai (Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat) dan Berau.

Orangutan hanya akan bisa bertahan hidup bila habitat dan sumber pakannya terjamin, atau tidak diganggu oleh manusia. Di alam, orangutan  memiliki peran sangat sentral sebagai penyebar biji (seed dispersal agent) paling produktif dan massal dan merupakan indikator kesehatan hutan alam.

Penyebaran biji ini merupakan sunatullah untuk menjaga stabilitas ekosistem hutan tropis. Coba kita renungkan sejenak, berapa trilyunan biaya yang harus kita keluarkan bila tugas menyebarkan biji tersebut harus dilakukan oleh manusia dalam bentuk proyek tahun jamak agar hutan tropis tetap Lestari? Sehingga, semangat melestarikan orangutan musti dibaca sebagai ikhtiar melestarikan ekosistem hutan tropis yang memiliki aneka ragam fungsi lingkungan (environmental services).

Seperti tata air dan pengendali banjir, pengendali hama dan penyakit alami, keragaman hayati tumbuhan obat, bank benih tumbuhan sumber pakan (seed bank), dan aneka fungsi penting lainnya bagi kehidupan manusia. Singkat kata, melestarikan habitat orangutan berarti menyelematkan aneka fungsi alam dan selamatkan manusia dari bencana ekologis.

Jumlah populasi orangutan di seluruh Kalimantan diperkirakan sebanyak 60.000 ekor (sumber: PHVA 2004 dan Wich, 2008). Namun, saya duga angka tersebut telah mengalami penurunan yang signifikan karena semakin banyak orangutan yang mati akibat konversi habitat dan pembunuhan.

Bila prediksi pakar primata benar bahwa rata-rata ada 1.000 sampai 1.500 ekor orangutan mati dibunuh setiap tahunnya, maka bisa dipastikan dalam kurun waktu tidak sampai 30 tahun anak cucu kita akan kehilangan kesempatan luar biasa untuk mempelajari seluk beluk dan manfaat kehadiran salah satu jenis kera besar karismatis titipan Tuhan dari muka bumi Kalimantan.

Anak cucu akan mencatat bahwa generasi kita sekarang ini adalah generasi yang tidak amanah dan serakah. Ini sungguh memalukan sekaligus memilukan hati siapapun, terutama yang masih memiliki nurani.

Perlu saya sampaikan bahwa penyebab utama (major driving forces) dari kematian orangutan adalah konversi habitat alamiah orangutan secara massif dan serempak. Konversi habitat ini sejatinya merupakan proses sistematis yang seolah "direncanakan" melalui apa yang dikenal dengan proses revisi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dan perijinan kepada industri ektraktif skala besar.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved