Sumarti dan Seneng Dibunuh di Hongkong
Putri Saya Nggak Genit Kok, Saya tak Percaya dia PSK
orangtua, Seneng Mujiasih alias Jesse Lorena Ruri (28), mengaku mendengar selentingan yang menyematkan predikat tak sedap kepada putrinya, PSK.
TRIBUNKALTIM,COM, MUNA- Kedua orangtua, Seneng Mujiasih alias Jesse Lorena Ruri (28), mengaku mendengar selentingan yang menyematkan predikat tak sedap kepada putrinya. Seneng disebut-sebut berprofesi ganda, selain pekerja di restoran juga sebagai pekerja seks komersil (PSK) di Hongkong. Walaupun begitu, keluarga tak percaya isu tersebut.
"Saya nggak percaya kabar itu. Anak saya bukan perempuan nakal. Terakhir dia bilang kerja di restoran. Temannya juga bilang, anak saya kerja baik-baik di sana," ujar Jumineng (55), saat ditemui Tribunnews.com, Tribun Network di rumahnya di Desa Sidomakmur, Tiworo Kepulauan, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara, Rabu (12/11) petang.
Jumineng pun tak melihat gambaran 'perempuan nakal' pada Seneng yang terakhir pulang ke Muna lima tahun lalu, 2009. "Anak saya nggak genit, kok. Dia biasa saja," ujar Jumineng, trasmigran asal Pulau Jawa. (BACA: Gagak Hitam Bawa Firasat Kematian Seneng bagi Sang Ibu)
Mujiharjo (54), ayah Seneng, juga tak yakin anaknya berprofesi sebagai perempuan bayaran pelayan nafsu. "Setahu saya, dia anak baik-baik. Nggak mungkin itu," kata Mujiharjo. Namun ia mengakui pengetahuannya tentang pekerjaan Seneng di Hongkong sangat terbatas.
"Setahu saya dia kerja sama seperti temannya, jadi pembantu rumah tangga lalu kerja di restoran," imbuhnya.
Kakak korban, Sri Suantoro (30) juga mengaku tidak mendapatkan informasi tentang pekerjaan Seneng sebagai PSK. "Saya nggak dengar informasi soal itu. Saya nggak yakin dia bekerja seperti itu. Saya hanya dapat cerita dari temannya kalau adik saya pernah belajar bermain DJ (disc jockey di tempt hiburan). Kalau dia sampai melakukan pekerjaan seperti itu, saya nggak yakin," kata Suantoro. (BACA: Ayah Sumarti: Hukum Mati Pembunuh Anak Saya)
Sebelumnya, sejumlah media Hongkong menyatakan dua wanita asal Indonesia yang menjadi korban pembunuhan, Seneng Mujiasih dan Sumarti Ningsih (23), merupakan wanita PSK. Sedangkan staf Kementerian Luar Negeri, Julius sempat memberikan informasi keduanya berprofesi sebagai pramuria.
Seneng dan Sumarti menjadi korban kebiadaban bankir muda asal Inggris di Hongkong, Rurik George Caton Jutting. Mereka dibunuh di dalam kamar atau unit apartemen mewah di Hongkong antara 27 Oktober sampai dengan 1 November 2014.
Saat dikonfirmasi, juru bicara Kemenlu, Michael Tene enggan menjelaskan secara rinci mengenai peramu ria. "Tentang status pekerjaannya tidak relevan kami jelaskan. Apalagi, keduanya adalah korban. Yang jelas, kami dan fokus mengawal proses hukum kedua warga kita yang menjadi korban itu," kata Michael. (Baca: Sumarti Dibunuh Bankir Muda Inggris 5 Hari Sebelum Pulang ke Cilacap)
Mujiharjo menuding Rurik sebagai pembunuh sadis. Ia dan keluarganya berharap pelaku dihukum mati. Tapi, dari penjelasan staf Kementerian Luar Negeri, Mujiharjo mengetahui Hongkong tidak memberlakukan hukuman mati bagi pelaku pembunuhan. "Kami ingin dia dihukum yang paling tinggi, yaitu hukuman seumur hidup," tuturnya. (tribunnews/abdul qodir)
Berita Terkini dari Kalimantan Timur:
Bocoran Pipa Usang Pertamina Membuat Suparni Takut Memasak
Kapolda Kaltim Disambut Tembakan