Sabtu, 11 April 2026

Kisah Purwati-Purwadi, Pasutri yang Bertahan Hidup di Bawah Tenda

Purwati begitu bersemangat. Dua ekor ayam pemberian Pak Hasan ini adalah rejeki berharga. Hitung-hitung sebagai lauk makan siang bersama suaminya

TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFAN
Di tenda inilah pasangan suami istri Purwati dan Purwadi banyak menghabiskan waktu. Jika malam tiba, Purwati dan suaminya menghabiskan waktu istirahat di gubuk tak berdinding. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Jumat (3/4/2015) pagi menjelang siang, sekitar pukul 10.30, Purwati (50) terlihat sibuk menguliti dua ekor ayam kampung di atas jejeran papan. Papan-papan itu disusun agar tak bersentuhan langsung dengan tanah.

Purwati begitu bersemangat. Dua ekor ayam pemberian Pak Hasan ini adalah rejeki berharga. Hitung-hitung sebagai lauk makan siang bersama suaminya yang bernama Purwadi Utomo (47).

Sebuah meja yang panjangnya sekitar 2 meter menjadi wadah berbagai alat dapur dan makanan. Tumpukan piring, sebuah ulekan, galon yang berisi air minum, dan beberapa bumbu dapur tampak berjejer di meja saat itu.

Agar terhindar terik dan basah di kala hujan, suami Purwati sudah lebih dulu memasang tenda sebagai tempat meracik makanan. Tenda itu didirikan dua hari yang lalu dengan memanfaatkan dua pohon yang tumbuh subur. Sebilah bambu sepanjang hampir 6 meter dihuhungkan antara batang pohon yang satu dengan batang pohon di sebelahnya. (BACA juga: Kisah Akbar, Bocah Putus Sekolah Demi Mengurus Ibunya yang Lumpuh)

"Dibilang apes ya gimana mas, namanya cobaan hidup mesti dijalani sabar dan kuat,” begitu pertama kali Purwati membuka mulut saat didatangi TribunKaltim.co di Jalan Tanjung Rumbia, Kelurahan Tanjung Selor Hulu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Jumat (3/4/2015).

Di kala siang, Purwati banyak menghabiskan waktunya di bawah tenda ini sembari menunggu sang suami pulang mencari nafkah di luar. Saat malam tiba, begitu panjang penantian keduanya menjemput pagi. Kebetulan tak jauh dari tenda, sebuah gubuk menyerupai rumah panggung seukuran 4x4 meter ditempatinya untuk beristirahat.

Bentuknya memang menyerupai rumah panggung, tetapi belum berdinding dan belum memiliki alat penerangan. Bersyukur adalah cara ampuh melawan hawa dingin saat malam hari.

"Tadi malam sudah bermalam di sini. Rasanya biasa saja, kita tidak merasa kedinginan atau apa, karena kita tetap mensyukuri apa yang diberikan oleh yang kuasa,” sebutnya.

Gubuk serta lahan di sekitarnya pun masih milik Pak Hasan. Purwati mengaku, Pak Hasan lah yang mengajak suami dan dirinya menempati tempat ini sementara waktu, sembari merawat lahan kebun dan pertanian milik Pak Hasan yang berada di sekeliling gubuk.

Gubuk itu pun masih sedang dipugar oleh dua orang lelaki tua renta berumuran 55 tahun, Hariansyah dan Mus. Keduanya adalah kerabat Pak Hasan yang juga merasa iba atas kondisi yang dialami Purwanti dan suaminya.

Pemugaran rumah ini memanfaatkan sisa-sisa kayu dari gubuk lama yang sebelumnya ambruk akibat posisinya yang sudah terlalu miring dan tua termakan usia. Hariansyah menyebutkan ambruknya gubuk ini terjadi pada bulan Maret lalu.

"Selasa minggu depan, pas sudah sebulan roboh rumah ini. Jadi, Pak Hasan suruh perbaiki. Kayunya kita pakai yang bekas roboh, jadi seadanya saja, supaya mereka bisa tinggal. Terus terang, kita merasa kasihan juga," sebut pria yang berasal dari Enrekang, Sulawesi Selatan ini.

Awalnya pasangan Purwati dan Purwadi Utomo tinggal di sebuah mess perusahaan di Tanjung Selor sejak Maret 2013 silam. Lantaran masa kontrak selesai, tak ada pilihan lain selain menerima uluran tangan Pak Hasan yang juga kebetulan sebagai salah seorang kenalan Purwadi. (BACA juga: Kisah Mbah Jan, Pawang Hujan Sangatta yang Dibayar Sukarela)

"Saya dari Samarinda, kemudian masuk ke sini bekerja tahun 2013 karena ada teman minta bantu. Tetapi sekarang begini karena mungkin kurang perhatian dari pimpinan. Tetapi namanya cobaan hidup mesti saya jalani. Saya tidak mudah menyerah," sebut Purwadi pria asli Kebumen, Jawa Tengah ini.

Beberapa kerabatnya di Samarinda telah mencoba mengajak keduanya untuk kembali ke Kota Tepian, namun Purwadi tetap bersikukuh untuk menghadapi masa sulit ini tanpa mengeluh sekalipun.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved