Risalah
Memaknai Sebuah Emansipasi
Persoalannya menjadi berbeda ketika sudah ada embel-embel, berkebaya identik dengan memperingati perjuangan Kartini.
Oleh : Zulfatun Mahmudah*
21 April merupakan tanggal yang cukup penting bagi kaum perempuan Indonesia. Tanggal tersebut diakui sebagai hari peringatan kebangkitan kaum perempuan melawan diskriminasi gender, dengan mengusung label “Hari Kartini”. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kaum perempuan memaknai peringatan hari bersejarah tersebut?
Sejumlah organisasi perempuan dan lembaga-lembaga baik swasta maupun pemerintah kerap menandai momen penting itu dengan berpakaian kebaya. Bahkan siswi dari SD hingga SMA ikut-ikutan kena imbasnya. Mereka pun diminta berkebaya pada tanggal tersebut. Tidak hanya itu, berbagai kontes kebaya juga turut memeriahkan peringatan hari Kartini.
Jika berkebaya diorientasikan sebagai upaya pelestarian budaya, sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Persoalannya menjadi berbeda ketika sudah ada embel-embel, berkebaya identik dengan memperingati perjuangan Kartini. Di sisi lain, publik perempuan sendiri tidak memiliki pemahaman yang komprehensif, mengapa Kartini begitu dianggap berjasa bagi kaumnya, hingga kelahirannya perlu diperingati secara khusus.
Kartini merupakan perempuan Jawa yang lahir di Jepara akhir abad ke 19, tepatnya tahun 1879. Pada saat itu, budaya pakaian Jawa dalam bentuk kebaya tentu saja masih sangat kental. Tidak mengherankan jika Kartini tumbuh dewasa dengan selalu berpakaian kebaya. Jika Kartini lahir di era sekarang, barangkali Kartini akan tampil berbusana blazer layaknya para pemikir era modern.
Sangat disayangkan jika perjuangan agung Kartini sebatas diperingati dengan kebaya dan segala kontesnya. Sementara pemikiran dan kepribadian Kartini jauh melewati batas symbol pakaian yang dikenakan pada zamannya. Meski masa hidup Kartini terbilang sangat singkat, namun berbagai pemikiran dan perjuangannya cukup menjadi teladan yang luar biasa bagi kaum perempuan masa kini. Kartini wafat di usia sangat muda, 25 tahun, tepatnya 17 September 1904. Apa sesungguhnya yang sudah dilakukan Kartini sepanjang hidupnya?
Sebuah Teladan
Kita mengenal begitu banyak pahlawan perempuan sebelum era Kartini, seperti Nyi Ageng Serang, Cut Nyak Dien, Cut Meutiah, dan lain-lain. Tentu saja, jasa mereka luar biasa tidak hanya bagi perempuan tapi bagi seluruh bangsa ini.
Ada satu hal yang membedakan Kartini dengan para pejuang pendahulunya. Kartini tidak memanggul senjata, tapi ia berjuang dengan menuangkan segala pemikirannya lewat tulisan. Kartini tidak hanya berjuang melawan colonial Belanda saat itu, namun juga berjuang melawan adat istiadat bangsanya yang banyak merugikan kaum perempuan.
Pemikiran dan aspirasi Kartini tertuang dalam surat-surat yang ditulis untuk sahabatnya di Belanda, khususnya Stella dan Ny. Abendanon. Kumpulan surat-surat itulah yang akhirnya ditebitkan dalam sebuah buku yang tertulis dalam berbagai bahasa.
Buku yang terbit pertama ditulis oleh J.H Abendanon dalam bahasa Belanda tahun 1911. Door Duisternis tot Lict: Gedachten Over en Voor Het Javaansche van Raden Adjeng Kartini (Dari Kegelapan Menjadi Terang: Pemikiran Tentang dan Untuk Bangsa Jawa oleh Raden Adjeng Kartini), demikian judul bukunya.
Dalam salah satu suratnya ia menyebutkan “Kami sebagai perempuan Jawa hanya boleh mempunyai satu cita-cita, mengimpikan satu impian, ialah suatu hari kami akan dikawinkan sesuai dengan pilihan orang tua”. Surat tersebut ia tulis sebagai ungkapan kekecewaan atas tradisi yang dianggap merugikan perempuan.
Sebagai anak Bupati, Kartini memang berkesempatan mengenyam pendidikan dasar Hindia Belanda di Jepara. Namun berbeda dengan saudara laki-lakinya, usai pendidikan dasar dia tidak dibolehkan melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi.
Kala itu, anak perempuan harus masuk fase pingitan begitu usianya mencapai 12 tahun, sampai akhirnya siap dinikahkan di usia 14 tahun. Kartini menentang keras buday apingit terhadap anak perempuan.
Tidak hanya menentang budaya itu, Kartini juga mengajukan beasiswa untuk bias sekolah ke Belanda. Dalam surat yang ditulis ke Stella, Kartini mengatakan "…ayahku tidak pernah mengira, bahwa kesempatan yang diberikan kepada anak-anak gadisnya menimbulkan keinginan dalam diriku yang bertentangan dengan adat istiadat Jawa bagi gadis sepertiku”. Kartini sadar bahwa apa yang menjadi keinginannya sangat bertentangan dengan adat kala itu.
Meski kedua perjuangan tersebut tidak terwujud, namun Kartini mampu mengulur masa remajanya cukup panjang hingga usia 24 tahun. Kartini yang dalam surat-suratnya juga menentang poligami, akhirnya dinikahkan dengan Bupati Rembang yang kala itu sudah beristri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/zulfatun-mahmudah_20150420_171446.jpg)