Kolom Rehat
Setiap Hari adalah Hari Bumi
Mereka menilai Gubernur Awang Faroek Ishak hanya mengobral slogan Kaltim Green dan One Man Five Trees dengan target 18,7 juta hektare.
Oleh: Arif Er Rachman
@ariiferrachman
SEJAK 20 juta orang memadati jalan dan taman-taman di Fifth Evenue, New York, pada 22 April 45 tahun silam, kesadaran akan rentannya bumi yang kita tinggali ini dari kerusakan akibat ulah manusia semakin tumbuh.
Setiap tahun, setiap tanggal bersejarah yang kemudian diakui sebagai Hari Bumi itu, para pegiat di lebih dari 175 negara meneriakkan pada dunia untuk mengamankan bumi dari kerusakan, melindungi air minum, membersihkan udara, melestarikan hutan, menjaga alam, laut, sungai, dan sebagainya.
Indonesia tidak ketinggalan. Begitu juga Kaltim yang menjadi tempat paru-paru dunia.
Di Samarinda, puluhan aktivis lingkungan yang tergabung dalam Forum Pecinta Alam Kaltim, pada 22 April lalu, melakukan aksi protes di depan Kantor Pemprov.
Mereka menilai Gubernur Awang Faroek Ishak hanya mengobral slogan Kaltim Green dan One Man Five Trees dengan target 18,7 juta hektare. Kenyataannya, seluas 7,2 juta hektare lahan di Kaltim-Kaltara telah dikapling izin tambang.
Itu termasuk 278.767 hektare rawa gambut Mahakam yang dikepung 84 izin tambang dan 168 izin perkebunan sawit. Bahkan 1,1 juta hektare kawasan karts Kutim dan Berau akan dialihkan untuk tambang perusahaan semen.
Selain aksi turun ke jalan, aktivis lingkungan Samarinda juga memperingati Hari Bumi tahun ini dengan tema "Menyelamatkan Kawasan Mahakam Tengah, Menyelamatkan Bumi dan Kehidupan."
Ajang yang belangsung 20-29 April ini diisi dengan diskusi publik, pemutaran video, pameran fotografi, dan dimeriahkan oleh konser kelompok musik Dialog Dini Hari yang dikenal dengan lagu-lagu bertema lingkungan.

Sejumlah truk mengangkut batu bara yang ditambang di sebuah kawasan perbukitan Jalan Mugirejo, Sungai Pinang Dalam, Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (30/3/2015). Aktivitas pertambangan batu bara dikawasan ini terus berlanjut selama 24 jam. (TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO HARDI PRASETYO)
Aksi-aksi seperti ini sudah memang selayaknya kita apresiasi dan dukung. Dan lebih baik lagi bila kita sebagai bagian dari masyarakat akar rumput bisa aktif terlibat di dalamnya. Dengan demikian, pernyataan miring bahwa Hari Bumi hanya menjadi ajang bertemunya para pegiat lingkungan tapi minim tindak lanjut secara nyata, bisa ditepis.
Kita sadar, hingga saat ini berbagai kerusakan di bumi telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup serta mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam seperti longsor, banjir, angin topan, kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan, dan sebagainya.
Sebagian besar kerusakan lingkungan disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri dan dampak negatifnya pun akan dirasakan oleh kita juga sebagai manusia. Karena itu, upaya untuk melestarikan lingkungan hidup tidak hanya tanggung jawab pemerintah, LSM, dan pegiat lingkungan saja.
Ini adalah tanggung jawab masing-masing individu kita yang hidup di bumi. Kesadaran dan tanggung jawab untuk melestarikan lingkungan hidup juga harus kita tanamkan pada generasi di bawah kita sedini mungkin dan secara berkesinambungan terus-menerus.