Hukuman Mati
Tangan Jokowi dan Merah Putih Berlumur Darah, Tulis Media Australia
Koran The Courier Mail di Brisbane, Australia memuat berita utama "Bloody Hands" yang artinya "tangan yang menumpahkah/berlumuran darah".
Detik-detik sebelum eksekusi, keluarga Chan dan Sukumaran dipantau masih meminta belas kasih kepada Presiden Joko Widodo untuk memberikan pengampunannya.
Adik Andrew Chan, Michael, mengatakan tidak ada kata terlambat untuk pengampunan dari presiden, sebab eksekusi ini akan menghadirkan duka di tengah keluarga seumur hidupnya.
"Ini tidak akan menyelesaikan permasalahan narkoba. Besok, minggu depan, bulan depan, ini tidak akan menghentikan apapun," ucap Chinthu, saudara lelaki Myuran.
"Tolong jangan biarkan ibu dan saudara-saudara saya harus menguburnya,"
Pihak keluarga menggambarkan perpisahan tersebut sebagai "penyiksaan" dan meminta Presiden Joko Widodo untuk berpikir ulang mengenai pelaksanaan eksekusi itu.
Lukisan Berdarah
Sesuai dengan permintaan terakhirnya sebelum dieksekusi, terpidana mati Myuran Sukumaran ingin terus melukis hingga saat-saat terakhir. Salah satu lukisan terakhirnya menampilkan merah putih dengan asosiasi darah yang menetes.
Sejumlah lukisan akhir Sukumaran akan dipamerkan di Cilacap, Rabu (29/4/2015). (
Dalam hari-hari terakhirnya, menjelang hukuman mati, Sukumaran mengekspresikan perasaannya melalui sejumlah lukisan.
Salah satunya adalah lukisan wajahnya sendiri setelah diberikan pemberitahuan bahwa hidupnya akan tersisa 72 jam lagi. (Baca juga: Terjebak 82 Jam, Korban Gempa Ini Bertahan Setelah Minum Urine Sendiri )
Ia pun sempat melukis sebuah jantung, yang kemudian dibubuhi tanda tangan dari rekan-rekan napi lainnya, dengan judul "Satu hati, satu rasa dalam cinta". Lukisan lainnya adalah darah yang menetes di atas metrah-putih, yang bisa diasosiasikan dengan bendera Indonesia.
Sukumaran dalam waktu 72 jam terakhirnya meminta diberikan waktu selama mungkin untuk melukis.
Dalam lukisan wajahnya sendiri, ia sempat menuliskan "Dua hari terakhir, Myuran Sukumaran, Penjara Besi, Nusakambangan".
Wajah Presiden Joko WIdodo dengan tulisan "Manusia Bisa Berubah" juga menjadi salah satu hasil karya terakhirnya.
Sukumaran mulai melukis di tahun 2012 saat bertemu salah satu temannya, yang kemudian menjadi mentor seninya, Ben Quilty. Ben adalah seniman yang pernah memenangkan penghargaan Piala Archibald.
Quilty mengaku kalau bakat Sukumaran sudah terlihat jelas. "Ia tahu bagaimana melukis, tanpa dilatih, tanpa membaca buku seni," katanya seperti dilansir Kompas.com. (Baca juga: Eksekusi Mati Mary Jane Bukan Dibatalkan, Tapi Ditunda)
Sukumaran pernah melukis 28 wajah sendirinya dalam waktu dua minggu. Ia mendapat gelar seni dari Curtin University pada bulan Febuari tahun ini.
Selama berada di penjara Kerobokan, ia telah memberikan pelatihan melukis dan seni bagi rekan-rekan sesama napi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/tangan-jokowi-berlumur-darah2_20150429_174804.jpg)