Selamatkan Sungai Kedang Kelapa
Ponton Batubara Merusak Lahan Gambut dan Ancam Habitat Pesut Mahakam
Dan dua bulan belakangan kata Uhay, aktifitas ponton bahkan sangat tinggi, mencapai lebih dari 3 kali melintas dalam sehari.
Penulis: Doan E Pardede |
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Aktifitas ponton pengangkut batubara di Sungai Kedang Kepala, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang merupakan salah satu anak Sungai Mahakam mulai dikeluhkan warga sekitar.
Jika melalui anak sungai tersebut, ponton angkutan batubara tersebut akan melintas di 3 desa yaitu Desa Bukit Jering, Desa Muara Siran dan Desa Kupang Baru.
Untuk diketahui, Desa Muara Siran merupakan desa yang mempertahankan lahan gambutnya untuk wilayah konservasi dan telah di SK-kan oleh Bupati Kukar dengan Nomor : 590/526/001/A.Ptn/2013.
Di Muara Siran, juga ada daerah cagar alam yang berada di seberang Sungai Kedang Kepala.
Selain adanya lahan gambut dan cagar alam, Sungai Kedang Kepala juga merupakan daerah ruaya (pergerakan) Pesut Mahakam yang sekarang jumlahnya sekarang hanya tinggal sekitar 80 ekor.
Dalam beberapa bulan belakangan, atau tepatnya setelah aktifitas hilir mudiknya ponton, sudah tidak terlihat lagi kemunculan Pesut Mahakam.
Kepala Desa dan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Muara Siran, Uhay kepada TRIBUNKALTIM.CO, Senin (18/5/2015) malam menceritakan, aktifitas melintasnya ponton di Sungai Kedang Kepala sudah mulai ada sejak tahun 2012 lalu.
Namun kala itu kata Uhay, ponton hanya sesekali terlihat lewat dan belum memberikan dampaknya belum dirasa oleh masyarakat.
Pada tanggal 13 Februari 2015 lalu, ada orang yang mengaku perwakilan dari sebuah perusahaan tambang di Kukar mendatangi Uhay, selaku perwakilan warga.
Kepada Uhay, perwakilan tambang bermaksud meminta izin ke warga, untuk menggunakan sungai Kedang Kepala sebagai jalur transportasi pengangkutan batubara dengan menggunakan ponton.
Tanpa persetujuan dan hanya sekadar menyampaikan kata Uhay, ponton angkutan batubara tersebut sudah melintas lagi dengan intensitas lebih tinggi di Sungai Kedang Kepala.
Dan dua bulan belakangan kata Uhay, aktifitas ponton bahkan sangat tinggi, mencapai lebih dari 3 kali melintas dalam sehari.
"Kalau dulu sekitar tahun 2011-2012, saya masih sering melihat Pesut bermain-main di sungai. Sekarang, bukan jarang lagi, sama sekali tidak pernah lagi saya lihat," kata Uhay.
Ukuran ponton yang mencapai kapasitas 8.000 ton juga menurutnya sangat tidak sebanding dengan lebar sungai.
Dan seperti diperkirakan, ketika melintas, ponton raksasa itu memenuhi sungai badan sungai dan menimbulkan banyak masalah.