Opini Cak Bay
Setan Bola Atau Sepak Bola
Dan terbaru adalah nama mantan wasit Jimmy Napitupulu masuk dalam bidikan untuk diperiksa dalam salah satu kasus pengaturan skor.
Oleh: Ahmad Bayasut @ahmadbayasut
Bagi penggemar sepakbola Indonesia pasti tahu siapa mantan wasit Jimmy Napitupulu. Wasit senior satu ini merupakan salah satu wasit terbaik yang dimiliki Indonesia. Dengan bahasa sedikit lebay, wasit ini mengenai kredibilitas, ketegasan serta kinerjanya bisa dikatakan seperti wasit terbaik dunia, Pierluigi Collina.
Tanpa basa-basi kartu kuning atau kartu merah keluar dari sakunya bila pemain berlaku kasar, tidak hormat atau melakukan pelanggaran. Lisensinya juga tidak main-main.Jimmy mengantongi lisensi FIFA sehingga mendapat lampu hijau memimpin pertandingan besar atau internasional. Dan segudang prestasinya di dunia perwasitan tidak diragukan lagi. Bila demikian maka Jimmy seolah memberikan harapan bagi sepakbola kita agar jauh dari namanya pengaturan skor, sepakbola gajah atau mafia sepakbola.
Namun saya terkejut ketika membaca salah satu media online. Disebutkan bahwa Rapat Komite Disiplin akan mengungkap kembali kasus-kasus lama sepakbola tanah air. Dan terbaru adalah nama mantan wasit Jimmy Napitupulu masuk dalam bidikan untuk diperiksa dalam salah satu kasus pengaturan skor. Wah, langsung saya berpikir, apa yang dilakukan wasit Jimmy?
Disebutkan bahwa Jimmy akan diperiksa soal munculnya video mengenai transfer uang dari para wasit ke rekening Jimmy. Karena saat itu Jimmy menduduki jabatan anggota komite wasit PSSI. Berita ini memang mengejutkan sekaligus membuka tabir kebobrokan sepakbola Indonesia. Karena ruang lingkup manapun tidak jauh dengan yang namanya fulus, duit atau uang.
Siapakah yang bermain untuk menghancurkan sepakbola ini? Tentu jawabannya masih samar, kita pasti menyebutnya mafia sepakbola. Siapa mafia sepakbola itu? Tentu tidak akan ada yang tahu. Karena mafia sepakbola ini bisa siapa saja. Entah itu oknum pemain, oknum wasit, oknum pelatih, oknum manajer tim, atau banyak lainnya. Tidak mudah mengungkapnya bila tidak sungguh-sungguh untuk diperangi.
Kita masih ingat, organisasi internasional FIFA saja terjebak dalam kubangan suap. Beberapa pejabat tingginya ditangkap karena menerima suap. Bahkan big boss FIFA, Sepp Blatter dalam bidikan terkait kasus suap pemilihan tuan rumah piala dunia. Ini artinya sepakbola ini seperti buah surga yang diperebutkan, Perputaran uang dunia sepakbola sangat besar. Dan paling mudah adalah pengaturan skor tadi.
Untuk pengaturan skor ini banyak modusnya. Para mafia ini cukup menyuruh kurir membawa segepok uang. Diberikan kepada lingkaran oknum pelaku sepakbola (oknum pemain, wasit, manajer tim dsb). Contoh, sasaran yang paling empuk adalah posisi pemain belakang dan penjaga gawang. Bisa saja kedua posisi pemain ini menjegal pemain lawan di kotak penalti atau berbuat kesalahan ketika menjaga gawang. Bisa juga pada posisi penyerang, agar si penyerang ini nanti selalu gagal mencetak gol.
Untuk oknum wasit, bisa pula dimanfaatkan mafia agar tidak adil memimpin pertandingan. Dan ini tidak murah. Mafia sepakbola pasti memberi iming-iming besar. Kasus yang terungkap lainnya, instruksi manajer PSS Sleman untuk mengalah versus PSIS Semarang pada Oktober 2014 lalu.
Kasus ini muncul setelah salah satu pemainnya mengaku diminta mengalah dengan iming-iming uang. Sebenarnya masih banyak yang ingin diulas terkait mafia sepakbola ini. Untuk itu pada judul diatas adalah persepsi bahwa kata sepakbola sudah tidak pas. Setan bola tentu sangat pas.
Karena tidak mungkin sebuah bola jadi setan bila tidak setan lebih dahulu mendekati bola menjadi setan. Karena setan ini bila mengoda manusia sangat jago. Jago menjerumuskan manusia ke lubang hitam, hina dan kebobrokan.
Seperti kasus menimpa wasit Jimmy Napitupulu itu tadi. Jimmy yang pemberani dan tegas di lapangan seperti malaikat lapangan. Nyatanya bisa saja terjerumus dalam godaan. Jadi masuk akal bila sekarang Sepak bola diganti dengan setan bola.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/opini_ahmad-bayasut_20150802_221207.jpg)