Opini Cak Bay
Merdeka Ataoe Mafia (Mati)
Belum tampak terlihat mengusut tuntas kasus praktek mafia bola, suap menyuap atau lain sebagainya.
Ahmad Bayasut, @ahmadbayasut
Hiruk pikuk acara Agustusan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia masih ramai di kampung, gang-gang sempit, desa dan perkotaan. Perayaan kemerdekaan menginjak 70 tahun, tentu bila disandingkan dengan umur manusia normal abad ini sudah memasuki masa uzur. Namun untuk urusan perayaan kemerdekaan sebuah Negara tentu tidak batasnya sampai kiamat.
Hanya saja semakin lama umur bertambah maka yang membedakan adalah pengalaman. Terkait kemerdekaan ini, ingin rasanya menyandingkan dengan kondisi sepakbola Indonesia. Beberapa media sempat memberitakan harapan, penilaian serta opini pelaku sepakbola terhadap kemerdekaan.
Seperti harapan pelatih baru Persiba Balikpapan, Eduard Tjong . Pernyataan terhadap kemerdekaan ditulis media online bahwa merdeka yang dimaksud oleh Eduard adalah terbebas dari kepentingan kelompok tertentu, terbebas dari pengaturan skor, serta terbebas dari hal negatif lainnya. Untuk memerdekakan sepakbola memang cukup sulit. Hal ini terlihat dari sepakbola dunia internasional yang juga masih mengalami kesulitan untuk hal ini. (TRIBUNKALTIM.CO, Selasa, 18 Agustus 2015).
Harapan lain juga datang dari pelatih seperti Rahmad Darmawan. Pelatih yang akrab disapa RD ini menilai kemerdekaan RI berarti sebuah kebebasan di segala bidang, tak terkecuali sepak bola. "Buat saya arti kemerdekaan itu adalah kita bisa bekerja bebas tapi berdasarkan koridor hukum, salah satunya di sepak bola. Saya cukup bangga dengan negara ini karena mengalami lonjakan kebebasan cukup berarti," kata pelatih Persija Jakarta (bola.com, Senin17 Agustus 2015).
Dari kedua pelatih ini, bisa diambil contoh bahwa kemerdekaan merupakan kebebasan tetapi tidak kebablasan. Merdeka itu bebas alias tidak ada lagi intervensi, kepentingan, apalagi sampai ikut mengatur strategi yang bukan kewenangannya. Tapi apakah mimpi itu sudah terwujud?. Jawabannya sudah pasti belum.
Seperti yang pernah diutarakan pelatih Agus Yuwono beberapa waktu silam bahwa dirinya pernah diminta untuk menurunkan skuad lemah. Agar timnya kalah dengan iming-iming uang ratusan juta. Namun kita angkat topi dengan Agus Yuwono yang menolak suap karena tidak sesuai dengan hati nuraninya. “Selama melatih tim profesional, saya sudah tiga kali mengalami penawaran pengaturan skor, yakni satu kali ketika melatih Persidafon Dafonsoro dan dua kali saat melatih Gresik United,” ungkap Agus Yuwono kepada media.
Melihat kasus ini, sepakbola Indonesia masih belum merdeka. Dan musuh utamanya adalah mafia. Mafia datang sebagai penjajah untuk mengatur tim ini menang dan tim itu kalah. Mafia ternyata lebih merdeka, lebih bebas dengan menggunakan uang.
Lantas bagaimana mengatasinya. Ya tentu dilawan seperti Agus Yuwono tadi. Seperti para pendahulu kita merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Lawan dengan sepenuh hati bahkan sampai tumpah darah. Seperti temuan kasus baru pemain Pusamania Borneo FC Okto Maniani dan Erick Weeks Lewis menolak suap dari mantan pemain Johan Ibo. Mereka berani melawan demi menegakkan fair play.
Bila sudah dilawan maka hukum yang berlaku wajib tegas. Seperti kasus Johan Ibo seharusnya ditangani dengan tuntas. Jangan sampai dibiarkan saja dan pelakunya bebas lenggang kangkung. Karena bila penegakan hukumnya lemah maka kepada lembaga atau institusi mana sepakbola ini berjalan sesuai rel kejujuran.
Bila perlu dibentuk Komisi Pemberantasan Suap Sepakbola atau apalah namanya demi berjalannya kompetisi sepakbola yang bersih dan fair play. Memang sudah ada Komisi Disiplin PSSI, hanya saja komisi ini masih melempem.
Belum tampak terlihat mengusut tuntas kasus praktek mafia bola, suap menyuap atau lain sebagainya.
PSSI didirikan sejak tahun 1930 dan bergabung dengan FIFA tahun 1952. Tentu organisasi ini banyak makan asam garam. Banyak pengalaman mengatasi permasalahan terutama mengenai mafia ini. Jangan sampai mafia ini mampu menembus PSSI hingga tidak berkutik. PSSI harus bersih dari tangan-tangan kotor.
Maka jangan heran bila pelatih-pelatih tadi mengatakan bahwa merdeka sepakbola Indonesia hanya tampak dari luar. Namun dari dalam masih banyak yang terjajah karena kalah dengan mafia tadi. Jadi Merdeka atau Mafia?
***
UPDATE berita eksklusif, terbaru, unik dan menarik dari Kalimantan. Cukup likes fan page fb TribunKaltim.co atau follow twitter @tribunkaltim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/opini_ahmad-bayasut_20150802_221207.jpg)