Berita Eksklusif
Nafkahi Istri, Korban PHK Beralih jadi Penjual Balon di Pasar Malam
Herli, misalnya. Ia menekuni pekerjaan baru sebagai penjual balon di pasar malam di Kota Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur jadi jualan balon.
Penulis: Cornel Dimas Satrio Kusbiananto |
Menurutnya moring itu semacam petugas pengikat tali kapal, saat bongkar muat komoditas tambang batubara. Ia mengaku pekerja pada satu perusahaan batubara.
BACA JUGA: PHK di Perusahaan Sektor Batubara Terjadi Sejak Dua Tahun Lalu
(TRIBUNKALTIM.CO/GEAFRY NECOLSEN) -Kegiatan penambangan batubara di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Selama bekerja sebagai moring, hidupnya banyak dihabiskan mengarungi sungai hingga ke laut. Sebagai moring ia menerima upah 100 ribu rupiah per hari. Jauh lebih tinggi daripada pendapatannya sekarang sebagai penjual balon.
Penghasilan rata-rata Rp 3 juta per bulan. Bahkan untuk menambah uang dibawa ke rumah, selama bekerja di kapal, Herli sambil berdagang rokok.
"Ya untungnya lumayan, karena di laut kan nggak ada warung. Jadi rokok itu selalu habis terjual. Saya bawanya slop-slopan, hasilnya bisa untuk nambah-nambah uang kebutuhan," tuturnya.
Seiring berjalannya waktu, Herli menyadari industri batubara bakal tak bertahan lama. Selepas itu, ia mulai memikirkan cara bekerja sendiri menafkahi istri dan tiga anaknya. Karena terhalang modal, Herli segera menjual motornya yang laku 6,5 juta.
"Uang dari hasil jual motor itu jadi modal saya untuk berdagang balon. Beli tabung gas balon itu habis 1,5 juta. Kalau untuk beli bahan, habis 500 ribu lah. Sisanya ditabung untuk keperluan lain," ungkapnya.
BACA JUGA: Mau PHK, Perusahaan Harus Beber Dulu Data Keuntungan dan Kerugian
Kondisi mirip dialami Budiman, warga Balikpapan. Ia kini menghidupi keluarga dengan mencari rezeki sebagai keberadaan pasar malam. Setiap malam, dalam satu minggu, ia selalu berpindah-pindah tempat dari satu lokaei ke lokasi pasar malam lainnya, sesuai jadwal yang sudah disepakati.
Budiman berjualan pakaian di pasar malam setelah tak lagi bekerja di sebuah perusahaan kayu di kawasan Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Awalnya Budiman tak membayangkan harus berjualan pakaian untuk mencari nafkah. Tekad membiayai istri dan ketiga anaknya, membuat Budiman tekun berjualan di pasar malam, pasar dadakan.
Pilihannya jual kebutuhan pokok, yakni pakaian atau makanan. Pilihan jatuh pada komoditas pakaian. “Tidak terpikirkan. Awalnya malu juga nawarin jualan ke orang karena tidak biasa. Tapi lama-kelamaan sudah tak canggung lagi,” ujar Budiman kepada TribunKaltim.co yang menemuinya di lapak pakaianya di Pasar Malam Km 25 Poros Balikpapan-Samarinda, Sabtu (12/9).
Pilihan untuk berjualan bermula ketika ia teringat kenangan kecil, yang terbiasa datang di pasar malam. Selain itu, modal membeli barang dangan relatif kecil. Barang dagangan yang dijual Budiman relatif murah, mulai harga Rp 20 Ribu hingga yang paling mahal Rp 75 Ribu untuk satu potong jaket.
Lalu, biaya sewa tempat juga murah sekali. “'Kalau di pasar, biaya kios saya tidak sanggup, kalau di sini kan biaya lebih murah bayar Rp 5 ribu semalam. Jadi masih terjangkau pedagang seperti kita ini,” kata Budiman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pasar-malam3_20150914_125204.jpg)
