Berita Eksklusif
Nafkahi Istri, Korban PHK Beralih jadi Penjual Balon di Pasar Malam
Herli, misalnya. Ia menekuni pekerjaan baru sebagai penjual balon di pasar malam di Kota Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur jadi jualan balon.
Penulis: Cornel Dimas Satrio Kusbiananto |
BACA JUGA: Industri Batu Bara Bangkrut, 587 Ribu Peserta BPJS Kesehatan Tunggak Premi
Mantan pekerja pada perusahaan seperti Herli dan Budiman telah menjatuhkan pilihan. Penghasilan dari hasil bekerja pada orang lain dibandingkan dengan bos sendiri pada usaha pribadi, relatif berbeda. Kadang-kadang lebih banyak, kadang lebih sedikirt.
Herli kini berjualan balon keliling tiap pasar malam menggunakan motor bebek. Meski tak punya lapak, Herli tetap membayar iuran kebersihan 4 ribu rupiah per malam. Paling laris balon terjual 20 buah per hari. Tapi tetap tidak dapat menandingi pendapatannya semasa bekerja di kapal.
Bahkan pendapatan Herli sebagai penjual balon tak cukup untuk membayar sekolah anak bungsunya yang baru masuk SMA swasta.
"Uang gedung anak saya ini belum bisa dibayar dari dua bulan kemarin. Biayanya 2,5 juta. Nantilah saya bayar tunggu ada uang. Sekarang masih sedikit pendapatan," ucapnya.
Tak hanya untuk biaya sekolah, Herli juga masih harus menafkahi keluarganya yang lain. Meski anak sulungnya sudah bekerja sebagai guru, Herli mengaku anaknya itu bergantung pada Herli pula hidupnya.
"Anak saya itu sudah jadi guru SD Negeri selama 10 tahun. Tapi sampai sekarang nggak pernah diangkat jadi PNS atau guru tetap. Makanya ini masih bergantung dengan saya. Kalaj saya nggak dapat penghasilan, uang makan dapat darimana?" ujar Herli sembari membereskan dagangannya.
Kesulitan pun dialami Budiman. Ketika perekonomian belum buruk seperti saat ini, di mana harga barang-barang melonjak tajam, sedangkan daya beli masyarakat melemah, pengunjung pasar malam cukup ramai. Hasilnya, penjualan pedagang pun bagus.
Namun saat ini, kondisi perekonomian yang sedang turun ternyata dirasakan Budiman. Menurutnya, biasanya dalam seminggu, omzet penjualan mencapai Rp 2 juta, sedangkan saat ini untuk mendapatkan Rp 1 juta sudah termasuk lumayan baik.
“Sepi sekali, tak jarang tiap jualan tidak ada pembeli satu pun,” kata Budiman mengeluh.
Bila membandingkan penghasilannya sebelumnya di perusahaan kayu dengan saat ini menjadi pedagang pakaian, memang diakui sangat jauh menurun. Meski begitu, tetapi Budiman mensyukuri semua kondisi yang dijalanin saat ini.
“Ambil positifnya saja, kalau sekarang walaupun kecil tapi setiap hari bisa kumpul dengan keluarga dirumah,” katanya. (*)
*** UPDATE berita eksklusif, terkini, unik dan menarik dari Kalimantan.
Like fan page fb TribunKaltim.co
dan follow twitter @tribunkaltim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pasar-malam3_20150914_125204.jpg)