Wow, Karst Sangkulirang Mangkalihat Nominator 1 Situs Budaya Warisan Dunia
Keunikan kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur ternyata telah mampu menarik perhatian Unesco
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Relatif baru diusulkan, tapi keunikan kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur ternyata telah mampu menarik perhatian pihak Unesco. Badan yang antara lain mengurusi situs warisan dunia itu kini menempatkan podisi karst tersebut di urutan pertama nominasi peninggalan warisan alam dan cagar budaya dunia.
Kabar gembira ini disambut dengan riuh tepuk tangan para peserta sosialisasi hasil deliniasi kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (25/10/2015) malam.
"Kabar baik ini hendaknya membuat kita semua makin bersinergi untuk terus mempersiapkan diri agar kawasan karst ini dapat segera dipilih menjadi situs warisan dunia," kata Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Samarinda I Made Kusumajaya di Samarinda, Minggu malam.

Inilah kawasan karts Sangkulirang-Mangkalihat yang di dalamnya terdapat jejak-jejak peninggalan manusia purba, nenek moyang masyarakat Indonesia saat ini. Mereka menyebar ke hingga ke Zew Zeland dan Madagaskar. FOTO: TNC/DJUNA IVEREIGH
Made mengatakan, awalnya ia mengira karst Sangkulirang-Mangkalihat masih di tiga besar nominasi, yakni setelah kota tua di DKI Jakarta dan kota Sawahlunto. "Tapi tadi Pak Suyud (Winarno) memberikan kabar bahwa posisinya sudah naik ke nomor satu di tentative list Unesco."
Ini menunjukkan besarnya perhatian Unesco terhadap karst ini. Made mengaku bangga. Pencapaian ini terhitung cepat. Ia sendiri baru fokus menggali sebanyak mungkin informasi dan penelitian tentang karst yang membentang dari Sangkulirang di Kutim hingga Mangkalihat di Berau in, setelah memimpin BPCB Samarinda. Dukungan pemerintah pusat, pemprov dan pemkab Kutim dan Berau, seluruh pihak termasuk para ahli rupanya telah membuat proses pengusulan ini menjadi lebih cepat.
"Tidak perlulah sampai 12 tahun seperti yang dialami lanskap budaya Bali. Kalau kita semua gotong royong, empat tahun lagi bisa." jelas Made lagi. Di Bali makan waktu lama karena ada lahan milik warga. Di karts ini tidak ada, semua bentang alam itu milik negara.
Moderator ikut menimpali: "Kalau di Toraja, begitu mendengar kabar seperti ini, masyarakatnya langsung nyembelih kerbau, padahal baru masuk daftar saja. Belum di posisi nomor satu seperti karst kita. Bagaimana dengan Kaltim?"
Suyud Winarno, pejabat yang lama bertugas mengawal proses pengusulan situs-situs budaya semacam ini ke Unesco, membenarkan, up date terakhir 30 Januari 2015 di daftar sementara menunjukkan karst ini sudah di urutan pertama. "Ini membuat peluang kita menjadi lebih besar," kata mantan Asisten Deputi Kebudayaan Kemenko Kesra ini.
Ada lima hal yang jadi acuan Unesco untuk menyeleksi daftar usulan dari seluruh dunia. Antara lain bagaimana outstanding universal value yang dimiliki situs itu seperti keunikannya dan kelangkaannya. Lalu soal keriteria, keaslian dan pembandingan dengan situs yang sama. Karts Sangkulirang-Mangkalihat menurutnya sangat khas, dan unik. Situs semacam ini hanya sedikit, seperti di Afrika.
Jika karst ini disetujui, maka ini akan menjadi situs budaya warisan dunia kelima di Indonesia setelah candi Borobudur, Prambanan, situs Sangiran, dan landskap budaya Bali. "Tentu akan banyak sekali manfaatnya jika situs budaya karts Sangkulirang-Mangkalihat ini berhasil dipilih oleh Unesco. Yang pasti, nama Sangkulirang akan lebih dikenal dan jadi daerah tujuan wisatawan global."
"Unesco akan ikut menggalang dan mengkampanyekan pelestarian situs tersebut. Misalnya, seperti yang pernah terjadi pada candi Borobudur dulu (sembilan stupanya rusak karena ledakan oleh aksi teror), Unesco langsung turun tangan menggalang dana bagi perbaikannya," kata Suyud.
Kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat mencakup luasan 1,8 juta hektare. Tetapi, yang diusulkan sebagai situs warisan dunia hanya 105 ribu hektare."Bisa saja nani diperluas, setelah ditetapkan sebagai situas warisan dunia. Tapi sebenarnya yang ada itu saja sudah sangat berat. Tidak gampang untuk menjaga kawasan seluas itu," kata Made.
Ia berharap, dengan naiknya urutan pertama nominasi ini, Pemda segera membangun akses ke situs. Juga perlu membina masyarakat untuk membuat cinderamata yang khas, yang hanya bisa didapatkan di sekitar situs tersebut. Termasuk soal kuliner, penting sekali menjadi perhatian. Bila perlu menyediakan sertifikat kepada setiap pengunjung sebagaimana orang datang di Sabang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/made-kusumajaya_bpcb-samarinda_20151025_221355.jpg)