Citizen Journalism

Stop Kekerasan Imbangi dengan Pendidikan Karakter

Anak-anak kita adalah manusia yang belum dewasa masih perlu bimbingan dan pengawasan dengan ramah dan kasih sayang khususnya orangtuanya sendiri.

Editor: Amalia Husnul A
tribunkaltim.co/fachmi rachman
Ilustrasi. Doa bersama yang dilakukan masyarakat Balikpapan untuk Engeline, seorang anak yang dilaporkan hilang kemudian ditemukan tewas. Engeline adalah satu dari sekian korban kekerasan terhadap anak. Kekerasan terhadap anak harus dihentikan. 

Oleh: Noer Wahyuni, S.Pd
Kepala SDN 020 Balikpapan Tengah

TIAP-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat (1). Sebagai pelajar untuk mengisi kemerdekaan, saat ini adalah dengan belajar yang sungguh-sungguh, untuk membalas jasa baik dan pengorbanan para pahlawan yang telah membebaskan kita dari belenggu penjajahan kurang biadab.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (2006:5)

BACA JUGA: Fenomena Media Sosial dan Kekerasan Verbal

Akhir-akhir ini kasus tindak kekerasan kerap kali terjadi di lingkungan sekolah, hal serupa juga terjadi di Jawa Tengah. Siswi Pemalang menjadi korban pemukulan seorang guru. Korban kini dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pemalang. Kondisinya masih terbaring lemas di ruang perawatan dan dari hasil pemeriksaan medis korban mengalami trauma ringan akibat benturan keras di bagian kepala.

Siswa Sekolah Dasar (SD) di Ambon luka robek di bagian kepala karena dipukul oleh guru Pendidikan Jasmani (Penjas) hanya gara-gara lupa membawa tugas. Para korban sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Kini pihak keluarga telah melaporkan kasus kekerasan ini kepada polisi setempat.

Kota Balikpapan saat ini juga menginginkan kotanya sebagai kota layak anak (ramah terhadap anak). Karena kekerasan-kekerasan yang pernah terjadi baru-baru ini di Kota Balikpapan yaitu kasus pembunuhan yang dilakukan anak di bawah umur kepada teman sebayanya sendiri. Belum lagi kasus asusila yang sering dilakukan orang dekat dengan lingkungannya seperti orangtua kandung, paman, tetangga dsb.

Anak-anak kita adalah manusia yang belum dewasa masih perlu bimbingan dan pengawasan dengan ramah dan kasih sayang khususnya orangtuanya sendiri. Oleh sebab itu, tingkah kita selaku orangtua itu dalam bertindak akan dicontoh oleh anak-anak kita kelak, seperti menjewer, menendang, menampar, contoh yang tidak baik itu yang sangat tidak kita harapkan.

Untuk membendung hal itu di SDN 020 Balikpapan Tengah melalui Bapak/Ibu guru khususnya guru agama membina iman dan taqwanya dengan membiasakan berdo'a sebelum belajar, ceramah peringatan hari besar Agama Islam, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra dan Mi'raj, pesantren kilat dan buka puasa bersama, bakti sosial, kurban, kunjungan ke pondok pesantren dan panti asuhan, shalat Dhuhur berjamaah di Mushalla SDN 020 Balikpapan Tengah.

BACA JUGA: Cegah Kenakalan Remaja, Guru dan Siswa Dibekali Pendidikan Karakter

Oleh sebab itu kita sebagai pendidik dapat memberikan pendidikan karakter melalui pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Pengertian belajar menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap. (2002:11)

Pembelajaran di sekolah ini dapat melalui pendekatan yang berhubungan dengan pendidikan karakter antara lain :
1. Bahwa bangsa Indonesia dapat bersyukur, dan cinta kepada tanah air, karena negara kita ini terkenal dengan kekayaan alamnya.

2. Dengan melalukan percobaan-percobaan siswa siswi terbiasa kerja kelompok, mempunyai tanggung jawab dan bergotong royong hal ini adalah pencerminan karakter bangsa Indonesia yang gemar tolong-menolong terhadap sesamanya.

3. Terjadinya diskusi dan menganalisis kejadian, maka di sini terjadi saling tukar pendapat dan saling menghargai pendapat orang lain, intinya setuju dengan perbedaan pendapat, karena perbedaan pendapat itu sejatinya adalah rahmat.

4.Masing-masing siswa-siswi bebas mengeluarkan pendapat tercermin sila keempat yakni demokrasi dan tidak ada yang memaksakan kehendaknya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved